Mimpi masa kini adalah kenyataan hari esok.
Anda bisa, jika Anda berpikir bisa, selama akal mengatakan bisa. Batasan apakah sesuatu masuk akal atau tidak, kita lihat saja orang lain, jika orang lain telah melakukannya atau telah mencapai impiannya, maka impian tersebut adalah masuk akal.
Menuliskan tujuan akan sangat membantu dalam menjaga alasan melakukan sesuatu.
Sebatik,
Setelah Setahun Krisis AmbalatNunukan Zoners dan TEMPO Interaktif, Jakarta :Sambil mengepulkan asap kreteknya, Marzuki mengamati bagan-bagan yang ada di tengah laut Sulawesi, perbatasan antara Kalimantan Timur dengan Sabah, Malaysia. Di samudera itu, hidupnya bergantung. “Cuma ini keahlian kami,” kata kakek enam cucu itu,
Rabu (29/11) lalu di pelabuhan desa Tanjungkarang, Sebatik, Nunukan. Bagi dia dan Anier, kawan seperantauan dari Bone, Sulawesi Selatan, keberuntungan besar bila mendapat 20 kilogram ikan sekali melaut. Sebab, sejak 2000, saat Malaysia mengizinkan nelayannya menggunakan troll, penghasilan sekitar 300 nelayan di Sebatik langsung anjlok. “Dulu bisa 60 kilo sekali melaut,” kata Anier. Troll mampu meraup banyak sekali hasil, lantaran bisa menembus kedalaman laut hingga 20 meter. Sementara, pukat yang biasa dipakai nelayan Sebatik, cuma 10 meter. Di bawah kedalaman itulah, ikan teri, makanan favorit warga Malaysia biasa hidup. “Harga teri paling mahal, bisa 7-8 ringgit Malaysia per kilo,” kata Marzuki. Ringgit, adalah alat tukar yang biasa dipakai penduduk Sebatik dalam bertransaksi bisnis. Di Tawau, Sabah, “pedagang grosir” ikan menunggu nelayan Sebatik menjual dagangannya.
Di Tawau juga semua kebutuhan penduduk Sebatik dipenuhi. Mulai dari popok bayi sampai minuman ringan. Penduduk Sebatik pun bisa kapan saja ke Tawau. “Tinggal minta cap camat Sebatik Barat atau bupati (Nunukan) beres,” kata Kaharuddin, staf humas Kabupaten Nunukan. Tapi, kehidupan nelayan Sebatik dan Tawau berbeda jauh. Kalau di perbatasan Malaysia itu, para nelayan diperhatikan ketersediaan alat produksinya, seperti bensin dan oli serta alat tangkapnya. Nelayan Indonesia harus membeli oli produksi Petronas seharga 27 ringgit per empat kilo. Bensinnya memang masih Pertamina, tapi harga seliter Premium hampir Rp 7000. Tingginya harga itu lantaran pasokan masih berasal dari Nunukan dan Balikpapan, dua kota terdekat dari Sebatik. Sebab, Depo Pertamina yang dibangun di Sungai Nyamuk sejak dua tahun lalu tak kunjung rampung. Pertamina sendiri bukan tak ingin memasok langsung agar nelayan bisa menghemat Rp 2.000 – 3.000 ribu untuk membeli bensin. Namun jika itu dilakukan, menurut seorang pejabat Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), “Potensi untuk diselundupkan ke Malaysia amat besar.” Sebatik merupakan satu pulau di utara Nunukan Timur yang terbagi dua. Separuh pulau di sebelah utara merupakan bagian Sabah Malaysia, dan di selatan masuk wilayah Indonesia. Pemerintah melalui DKP telah membentuk Tim Kelompok Kerja Pembangunan Kelautan dan Perikanan Terpadu Lintas Sektor untuk Membangun Pulau Sebatik. Tim ini melibatkan 18 departemen, antara lain Departemen Dalam Negeri, Pekerjaan Umum, Energi dan Sumberdaya Mineral, Perindustrian, Perdagangan, Pertahanan, Perhubungan, dan Kementerian Perumahan Rakyat. Niat membangun Sebatik tak lepas dari keputusan Mahkamah Internasional pada 2002 yang memberikan dua pulau di Laut Sulawesi, Sipadan dan Ligitan kepada Malaysia. Belakangan, negeri jiran itu kembali mengklaim blok Ambalat yang hanya sejarak sekitar 5 mil laut dari Pulau Sebatik, berdasarkan peta laut buatan mereka pada tahun 1979. Untuk menunjukkan dukungan politik, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pernah mengunjungi Sebatik dan Nunukan, serta Blok Ambalat yang sedang dipersengketakan pada 7 Maret 2005. Namun, pasca kunjungan itu belum ada perubahan signifikan di Sebatik. "Masih sama," kata Marzuki. Dua pekan lalu, 27 pejabat dari 11 departemen terkait mengunjungi Sebatik. Kunjungan tersebut, kata Sekretaris Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil, Ali Supardan, agar masing - masing sektor sinergis membangun Sebatik, sebagai pintu gerbang Indonesia dari Malaysia. Bila dibandingkan dengan Tawau yang hanya berjarak lima mil laut, kondisi Sebatik amat kontras. Melalui teropong, terlihat aktivitas pesisir pantai Malaysia itu layaknya kota metropolitan. Crobong asap pabrik makanan ringan dari cokelat tampak mengepul. Juga berderet kompleks perumahan dan rumah susun, serta mall. Sebaliknya untuk Sebatik, lima departemen telah menganggarkan dana pembangunan sebesar Rp 52 miliar pada 2007. Sedangkan 13 departemen lainnya belum selesai menghitung anggaran yang akan dikucurkan untuk membangun masa depan di Pulau Sebatik hingga 2009. Yophiandi
Baca Lebih Lengkap Artikelnya....
Pemerintah Bangun Fasilitas Perikanan di Sebatik
Nunukan Zoners Tarakan, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) menyiapkan pembangunan berbagai fasilitas pendukung sektor perikanan di Sebatik, Kalimantan Timur. Garis batas perairan di dekat Sebatik sempat diributkan pemerintah Indonesia dan Malaysia beberapa waktu silam. "Keinginan DKP itu supaya ikan-ikan hasil tangkapan nelayan kita didaratkan di Sebatik bukan di Tawao," kata Dirjen Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (P2SDKP), Aji Sularso, pada dialog bersama nelayan dan berbagai instansi pemerintahan terkait pukat hela di Tarakan, Kalimantan Timur,
Rabu (18/2) Ia mengatakan DKP akan membantu Pemda setempat untuk memajukan Sebatik mendirikan Tempat Pendaratan Ikan (TPI), Pos Penjagaan bersama DKP, TNI AL, dan Polri, menempatkan kapal pengawas di perbatasan perairan Sebatik dan Tawao, Malaysia. "Kalau perlu saya akan membantu menyampaikan permintaan pembangunan 'coolstorage' ke Dirjen Perikanan Tangkap supaya tidak langsung di bawa ke Tawao," ujar dia. Tidak adanya "coolstorage" di Sebatik membuat nelayan di sekitar Nunukan dan Sebatik menjual hasil tangkapannya ke Tawao tanpa proses pengolahan dan tanpa didaratkan di pelabuhan Indonesia.
Karena itu lah DKP tidak pernah memiliki data produksi perikanan di wilayah tersebut, ujar dia. "Sambil menunggu peraturan (pukat hela) selesai, sementara tolong (ikan) didaratkan di pelabuhan yang belum jadi dulu. Jadi ini juga bisa mempercepat permohonan 'coolstorage' dipenuhi," tambah Aji. Sementara itu, Kasubdit Prasarana Pengawasan Direktorat Sarana dan Prasarana Pengawasan P2SDKP, Gatot Rudiyono mengatakan, keinginan DKP sendiri sebenarnya bertahap membangun sektor perikanan di Sebatik untuk mengimbangi Tawao. "Ada pengepul-pengepul ikan yang mengambil dari nelayan kita di Sebatik untuk dikirim ke Tawao langsung. Karena itu Pak Dirjen (Aji Sularso) inginnya ada unit pengolahan ikan di sana," ujar Gatot. Sementara itu, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Nunukan Yusuf mengatakan, kendala terbesar untuk mengembangkan perikanan di Sebatik adalah daya listrik. "Kalau membangun 'coolstorage' saja mungkin Pemda masih mampu, tapi permasalahannya adalah listrik. Tidak cukup daya untuk bisa menyokong 'coolstorage'," tambah dia. (ant)
Baca Lebih Lengkap Artikelnya....
Pembangunan Daerah Perbatasan Tertinggal Jauh
Pulau Sebatik Minta Otoritas Khusus
Nunukan Zoners Sebatik Untunglah, hujan segera berlalu dari Pulau Sebatik. Satu per satu, malam itu,
Sabtu (16/8), penduduk kembali memadati kafe terbuka di Desa Sungai Nyamuk. Mereka duduk berbaris, menghadapi layar besar yang tengah menyiarkan pertandingan bulu tangkis dari ajang Olimpiade. Pemain ganda putra Indonesia Markis Kido/Hendra Setiawan tengah berjuang melawan pasangan Cina Cai Yun/ Fu Haifeng di partai final. Sorak-sorai membahana ketika Markis/Hendra mengakhiri pertandingan dengan kemenangan. Menyaksikan kemenangan itu di Pulau Sebatik memunculkan perasaan bangga yang lebih kuat dari biasanya. Itu pula yang dirasakan Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga (Menegpora) Adhyaksa M. Dault. "Begitu menang, saya langsung sujud syukur," ujarnya. Malam tujuh belas Agustus itu, sang Menteri memang tengah menginap di pulau Sebatik. Sebab, keesokan harinya, ia menjadi inspektur upacara peringatan Hari Kemerdekaan di desa itu. Dalam orasinya, kemenangan itu ia kabarkan kepada peserta upacara. "Semangat bela negara harus terus muncul di dalam sanubari kita. Selanjutnya, saya berharap agar jangan ada sejengkal tanah pun hilang dari negeri kita," katanya. Kehadiran menteri di tengah-tengah masyarakat Sebatik bukan tanpa alasan. Deputi I Pemberdayaan Pemuda Kemenegpora Sakhyan Asmara mengatakan, kunjungan tersebut ditujukan untuk menyebarkan semangat cinta tanah air kepada masyarakat setempat, khususnya para pemuda. "Ini pertama dalam sejarah. Seorang menteri menjadi inspektur upacara di perbatasan negara, khususnya Pulau Sebatik." Adhyaksa tiba di Pulau Sebatik,
Sabtu (16/8) sore. Ia bersama Wakil Komandan Jenderal Pasukan Khusus TNI AD Brigjen TNI Wisnu Bawa Tenaya, dan rombongan menumpang helikopter Super Puma milik TNI AU. Dari sana, sang menteri meninjau Pos III perbatasan Indonesia-Malaysia di Desa Aji Kuning dan Pos I TNI AL di Desa Sungai Pancang. Malam harinya, ia berdialog dengan masyarakat setempat di Hotel Queen.
Pulau Sebatik berada di bagian utara Provinsi Kalimantan Timur dan berbatasan langsung dengan Negeri Sabah Malaysia. Yang menarik, status kepemilikan pulau itu pun terbagi dua. Wilayah utara pulau itu, seluas 187,23 km2, menjadi milik Malaysia. Sementara, wilayah seluas 246, 61 km2, di selatan, milik Indonesia. Di Desa Aji Kuning, sedikitnya terdapat 300 kepala keluarga yang berada tepat di garis perbatasan Indonesia-Malaysia. "Bahkan, ada rumah warga yang berlokasi tepat di garis perbatasan. Jadi, ruang tamunya masuk wilayah Indonesia sedangkan dapurnya ada di Malaysia," kata Camat Sebatik, Asmar, kepada "PR", Sabtu (16/8) malam. Masyarakat setempat memiliki cerita sendiri soal terbaginya status kepemilikan pulau itu. "Dulu, Sebatik --termasuk sebagian pulau Kalimantan dan Tawau (negeri Sabah)-- adalah milik Kerajaan Bulungan. Nah, ceritanya, Raja Bulungan kalah berjudi sehingga harus menyerahkan setengah Pulau Sebatik kepada lawannya," ujarnya. Sebatik milik Indonesia dibagi menjadi dua kecamatan, Sebatik dan Sebatik Barat, dan secara administratif masuk ke wilayah Kab. Nunukan Kalimantan Timur. Jumlah penduduk mencapai 30.000 jiwa, mayoritas berasal dari suku Bugis. Yang menarik, secara ekonomi, masyarakat Pulau Sebatik sangat bergantung kepada Malaysia, khususnya ke Tawau. Hampir semua komoditas yang dihasilkan masyarakat, seperti ikan, sawit, dan cokelat, dijual ke negeri jiran itu. Masyarakat Sebatik pun membeli aneka kebutuhan sehari-hari dari Tawau. Tak heran jika ada dua mata uang yang beredar di sana, yakni rupiah dan ringgit. "Tetapi, kami lebih suka menggunakan ringgit. Nilainya lebih banyak," ujar Budi Witikno (13), pelajar kelas 1 SMP di Sungai Nyamuk, Minggu (17/8). Secara geografis, Pulau Sebatik memang lebih dekat ke Tawau. Perjalanan ke Tawau hanya membutuhkan waktu 15 menit menggunakan speed boat 60 PK. Ongkosnya 15 ringgit (setara Rp 45.000,00). Sementara, perjalanan ke pulau Nunukan membutuhkan waktu 1,5 jam. Ongkosnya pun lebih dari Rp 100.000,00.**PULAU Sebatik adalah pintu gerbang Indonesia di Kalimantan. Tak heran, jika kemudian, isu internasional dari sana sering dimunculkan "Jakarta" yang mengakibatkan hubungan Indonesia-Malaysia memanas. Akan tetapi, uniknya, masyarakat Sebatik dan Tawau tak terpengaruh. Mereka tetap menjalin hubungan yang harmonis. Mengapa demikian? Sebagian penduduk Sebatik dan Tawau ternyata masih bersaudara. Mereka berasal dari Bugis. Sebagai ilustrasi, Minggu (17/8), "PR" berbincang dengan Rufaidah (31), penumpang speed boat dari Tawau. "PR" sempat menduga bahwa dia pulang berbelanja. Tetapi, ia mengatakan, pulang dari pernikahan sepupu. Setidaknya, ada empat kasus yang "memaksa" pemerintah mulai memberikan perhatian lebih buat Pulau Sebatik, yakni sengketa kepemilikan pulau Sipadan-Ligitan (2002), eksodus ratusan ribu tenaga kerja, sengketa blok Ambalat (2005), dan Asykar Wataniah (2007). Sejumlah pejabat negara, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pernah berkunjung ke pulau tersebut. Kendati demikian, hingga kini, masyarakat masih merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintah. "Kami mengusulkan agar Sebatik diberikan otoritas khusus, seperti Batam, pada tahun 2010. Hanya dengan itu, kami rasa, Sebatik bisa maju," kata Abdul Latif (40), tokoh masyarakat. Harapan lain yang hingga kini belum dipenuhi pemerintah adalah pembangunan tempat pelelangan ikan (TPI). Buat masyarakat Sebatik, keberadaan TPI sangat mendesak. "Sehingga kami tak perlu lagi menjual ikan ke Tawau. Sekarang, kami terpaksa menjual ikan ke Tawau seharga 7 ringgit per kilogram. Tetapi, yang membeli ikan-ikan itu, ya orang Sebatik juga. Harganya sudah 10 ringgit per kilogram," kata Abdullah Jamal (48), penduduk Desa Sungai Nyamuk. Sejumlah masyarakat mengaku iri dengan pencapaian pembangunan di Tawau. Jika malam tiba, mereka menyaksikan Kota Tawau yang bermandikan cahaya. Gedung-gedung menjulang tinggi. Sedangkan masyarakat Sebatik hanya mendapat jatah penerangan listrik dua hari sekali. Sebatik pun tak memiliki jaringan air bersih. Mereka mengandalkan curahan air hujan. Selain itu, banyak lagi soal yang mendera Sebatik. Ruas-ruas jalan yang rusak, keberadaan rumah sakit, pelabuhan yang representatif, sekolah, dan sebagainya.**KETIKA berkunjung ke pulau itu, Adhyaksa merasakan betul derita masyarakat. Tapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali berharap. "Sekarang, kita melihat Tawau bersinar. Nanti, 5 tahun lagi, harapan saya, Tawaulah yang melihat kita. Mereka akan silau melihat Sebatik," ujar sang menteri sambil menikmati kilauan sinar Kota Tawau di seberang, Sabtu (16/8) petang. (Hazmirullah/"PR")***
Baca Lebih Lengkap Artikelnya....
By Republika Newsroom
Rabu, 18 Februari 2009 pukul 07:42:00
Nunukan Zoners SEBATIK-- Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) bersama TNI AL membangun pos di titik terluar Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur. "Kami akan bangun dermaga di sini, saya janji akan menempatkan kapal pengawas DKP di sini untuk membantu TNI AL," kata Dirjen Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (P2SDKP), Aji Sularso, di Sebatik,
Selasa malam (17/2). Aji mengatakan pihaknya juga akan menambah membangun kantor pengawas perikanan di Sebatik agar nelayan khususnya merasa lebih dilindungi. Perairan perbatasan di Sebatik merupakan salah satu titik terawan terjadinya pelanggaran wilayah perairan NKRI sekaligus pencurian ikan. "Kapal-kapal nelayan Malaysia itu biasa 'ngetrawl' di perbatasan. Sedangkan nelayan kita tidak pernah bisa sampai sana," ujar dia. Menteri Kelautan dan Perikanan telah mengeluarkan Permen KP Nomor PER.06/MEN/2008 yang direvisi dengan Permen PER.14/MEN/2008 tentang Izin Penggunaan Pukat Hela di Perairan Kalimantan Timur bagian Utara. Sementara itu, Paban V Stra Ops Sops Mabesal Kolonel D A Mamahit menegaskan bahwa Indonesia harus ekstra hati-hati menjaga perairan Sebatik.
Setelah beralih tangannya Pulau Sipadan dan Ligitan ke tangan Malaysia, hingga saat ini kedua negara masih menyelesaikan sengketa Blok Ambalat. "Malaysia mengklaim bahwa Blok Ambalat merupakan bagian dari wilayah mereka karena masuk dalam ZEE (zone ekonomi eksklusif) dari pulau terluar mereka (Sipadan)," ujar dia. Ia mengatakan TNI AL sama sekali tidak mempermasalahkan pengoperasian kapal trawl di perairan Kalimantan Timur bagian Utara, khususnya di Sebatik. Karena dengan cara itu pula dapat mencegah masuknya nelayan-nelayan asing. Malaysia menarik garis 200 mil dari Pulau Sipadan masuk ke perairan Indonesia sehingga Blok yang memiliki kandungan mineral sangat besar tersebut menjadi perebutan kedua negara. Diperkirakan kandungan minyak di Blok tersebut mencapai 421,61 juta barel dan gas alamnya sekitar 3,3 triliun kaki kubik. ant/fif
Baca Lebih Lengkap Artikelnya....
Sebatik, Pulau Terdepan Paling Unik dan Terumit
Nunukan Zoners Pulau Sebatik : merupakan salah satu dari
92 pulau terdepan Indonesia di sebelah timur laut Kalimantan. Letak geografisnya paling unik dan terumit dari sisi potensi konflik batas dengan negara lain. Pada bagian utara adalah Negara Bagian Sabah, Federasi Malaysia, sedangkan di selatan wilayah Kecamatan Sebatik, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Di sebelah barat Pulau Sebatik terdapat Pulau Nunukan, sebagai ibu kota Kabupaten Nunukan, sedangkan di seberang utara terdapat Kota Tawau, yang sudah berada di Negara Bagian Sabah. Luas Pulau Sebatik wilayah Indonesia, ada 414,16 km2 dan jumlah penduduk 13.776 jiwa. Paling unik, karena satu titik patok tapal batas negara di Pulau Sebatik, membelah Desa Aji Kuning menjadi milik Indonesia dan Malaysia. Ini merupakan bagian dari 18 patok batas di Pulau Sebatik, dan bagian tak terpisahkan dari 19.328 patok darat Akselerasi masyarakat antarkedua negara cukup baik. Sebagian besar kebutuhan akan sembilan bahan pokok warga Indonesia yang berpofesi sebagai petani dan nelayan, sepenuhnya dipasok dari Tawau. Banyak sekali rumah warga kedua negara posisinya berada persis di atas patok batas.
Tidak Akurat Paling rumit, karena perkembangan ilmu dan teknologi, pada tahun 1982-1983 Tim General Boder Committee (GBC) Indonesia-Malaysia, menemukan ketidakakuratan titik koordinat pada pemasangan patok batas di Desa Aji Kuning. Deviasinya 4 derajat pada patok yang ditanam, sehingga wilayah Indonesia di Pulau Sebatik dicaplok Malaysia seluas 103 hektare. Tanggal 26 September 1996, terjadi insiden penembakan oleh polisi hutan Malaysia terhadap anggota Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) yang tengah melakukan patroli di Pulau Sebatik. Malaysia sempat mengancam akan membangun pagar memanjang di sepanjang perbatasan Pulau Sebatik, ketika muncul saling klaim terhadap kepemilikan Blok Ambalat di Perairan Laut Sulawesi tahun 2005 dan 2008. ”Ketidakakuratan pemasangan patok batas pada titik koordinat yang sesungguhnya di Desa Aji Kuning merupakan bagian dari 10 masalah patok tapal batas darat Indonesia-Malaysia yang belum disepakati di Kalimantan. Negosiasi jalan terus,” ujar Pangdam VI/Tanjungpura Mayjen TNI Tono Suratman. Indonesia-Malaysia memang telah menetapkan bersama kedua patok di pantai barat dan pantai timur. Namun, pilar yang terletak di pantai barat Pulau Sebatik tidak ditemukan lagi sehingga tidak dapat dilakukan rekonstruksi beberapa posisi sebenarnya. Malaysia telah menunjukkan dokumen yang tidak asli yang memuat hasil-hasil ukuran patok-patok antara kedua pilar tersebut, yang katanya dibuat oleh Belanda-Inggris, namun patok-patok dimaksud cenderung menyimpang ke selatan. Gubernur Kaltim Awang Faruk mengatakan, secara bertahap pemerintah daerah dan departemen terkait di Jakarta terus menjabarkan program pembangunan berkelanjutan di wilayah pulau terdepan ini . Pulau Sebatik bagian dari empat pulau terdepan di Provinsi Kaltim. Dia mengatakan, permasalahan patok batas merupakan salah satu permasalahan serius yang mesti segera diselesaikan dengan Federasi Malaysia. Di samping persoalan di Pulau Sebatik, patok batas yang belum di-sepakati di Provinsi Kaltim adalah di Sungai Sinapad dan Sungai Simantipal. Dari 10 permasalahan patok batas yang belum disepakati, di garis batas Kalbar-Sarawak, terdapat lima problem, yakni segmen Tanjung Datu, Gunung Raya, Batu Aum, Sungai Buan, dan segmen D.400. Kaltim-Sabah, di Pulau Sebatik, Sungai Sinapad, Sungai Semantipal, Pulau Sebatik, segmen Daerah Prioritas 2700, dan segmen Daerah Prioritas C.500. Di Sungai Sinapad yang sering disebut masalah, Sungai Sedalir merupakan masalah yang diangkat oleh Federasi Malaysia atas pengertian hasil-hasil ukuran bersama (Belanda-Inggris) yang dituangkan dalam persetujuan 1915. Menurut Malaysia, karena Sungai Sinapad adalah sounthem tributary daripada Sungai Sedalir yang bermuara di atas 4 derajat 20 menit (hanya 34 menit saja), maka watershed yang tergambar pada peta lampiran persetujuan 1915 ditolak kebenarannya, dan menginginkan watershed yang berada di sebelah timur Sungai Sinapad, sehingga mengambil alih wilayah Indonesia 4.800 hektare. Padahal, dari meridian 117 derajat sampai Sungai Sedalir, menurut lampiran persetujuan 1915 terhadap sekitar sungai yang berasal dari sebelah atas (utara) lintang 4 derajat 20 menit. Malaysia mengabaikan pengertian small portions, bahwa watershed adalah primo loco daripada lintang 4 derajat 20 menit dan persetujuan adalah mengikat (obligator). Masalah Sungai Simantipal, karena Malaysia telah menemukan kasus di mana Sungai Sinapad ternyata bermuara di utara lintang 4 derajat 20 menit. Malaysia berusaha mencari di tempat lain, apakah ada kasus serupa. Akhirnya Malaysia menduga bahwa Sungai Simantipal pun yang sudah diatur di dalam persetujuan 1915, bermuara di sebelah utara lintang 4 derajat 30 menit. Apabila memang benar dugaan Malaysia, bahwa Sungai Simantipal bermuara di Sungai Sedalir di utara lintang 4 derajat 20 menit, maka di sini belum diketahui ke mana pihak Malaysia akan memilih watershed yang cocok. Ini karena di kawasan tersebut tidak ada watershed lain, kecuali yang telah disepakati Belanda-Inggris, seperti tercantum dalam persetujuan maupun peta lampirannya. n
Baca Lebih Lengkap Artikelnya....
Perekonomian Sebatik Tersedot ke Malaysia
Sabtu, 14 Juni 2008 | 00:47 WIBNunukan Zoners,
Kompas - Perekonomian di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, yang berbatasan dengan Malaysia, sangat bergantung pada negeri jiran itu. Hampir semua arus perdagangan dari pulau terluar Indonesia itu diarahkan ke Tawau, Sabah, Malaysia. Produk-produk asal Malaysia mendominasi pasar di Sebatik. Hampir semua kebutuhan pokok, seperti gula, tepung terigu, minyak goreng, bumbu dapur, dan barang-barang kelontong perlengkapan hidup sehari-hari, dipasok dari Tawau. Sebaliknya, hampir semua komoditas yang dihasilkan oleh Pulau Sebatik dipasarkan ke Tawau. Komoditas itu antara lain kelapa sawit, kakao, dan hasil perikanan. Tona, nelayan Desa Tanjung Karang, Kecamatan Sebatik, menuturkan, produk perikanan dari Sebatik hampir semuanya dijual ke Tawau. Menurut Tona, hal itu terjadi karena tak ada sarana untuk memasarkan komoditas yang dihasilkan oleh masyarakat Sebatik ke wilayah lain. Selain itu, harga barang yang dibeli dari Tawau relatif lebih murah dibandingkan dengan harga barang yang berasal dari wilayah Indonesia.
Bupati Nunukan Abdul Hafid Achmad di Kecamatan Sebatik, Jumat (13/6), mengemukakan, ketergantungan ekonomi masyarakat pada Malaysia karena hingga saat ini Sebatik belum tersentuh pembangunan. Ini bisa dilihat antara lain dari minimnya pasokan bahan pokok ke Sebatik dari Nunukan, yang merupakan wilayah Indonesia yang terdekat dari Sebatik. Selain itu, infrastruktur di pulau terluar wilayah Indonesia itu masih sangat terbatas, terutama ketersediaan listrik dan prasarana jalan. Situasi itu membuat industri pengolahan tidak dapat dibangun di Sebatik sehingga semua komoditas yang dihasilkan Sebatik dikirim ke Malaysia untuk diolah di sana. ”Selama belum tersedia sarana yang memadai, perekonomian masyarakat di Sebatik akan selalu bergantung pada negara tetangga,” kata Abdul Hafid.
Direktur Jenderal Kelautan, Perikanan, dan Pulau-pulau Kecil Departemen Kelautan dan Perikanan Syamsul Maarif dalam kunjungan ke Sebatik menyatakan bahwa ketergantungan ekonomi masyarakat Sebatik ke Tawau sangat merugikan Indonesia. Selain kehilangan potensi ekonomi, ketergantungan itu juga membuat jalur perbatasan rawan kejahatan antarnegara, seperti perdagangan perempuan dan pencurian ikan. Oleh karena itu, lanjut Syamsul, diperlukan kerja sama yang serius lintas departemen untuk mengatasi ketimpangan ekonomi dan mendorong pembangunan di Sebatik dan pulau-pulau terluar lainnya.Syamsul menyatakan, Departemen Kelautan dan Perikanan berencana memprioritaskan perhatian pada 92 pulau terluar.
Jalur TKI
Akses yang mudah ke Tawau menjadikan Pulau Sebatik menjadi daerah perlintasan bagi tenaga kerja Indonesia (TKI). Setiap hari sekitar 100 orang TKI melintasi jalur Sebatik-Tawau atau sebaliknya. Sebagian besar TKI tersebut berasal dari Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Pesona kemakmuran di negeri tetangga, yang setiap hari dilihat, membuat warga negara Indonesia yang tinggal di wilayah perbatasan harus menyeberang ke negeri tetangga untuk mengadu nasib. (lkt)
Baca Lebih Lengkap Artikelnya....
Indonesia Negaraku, Ringgit UangkuNunukan Zoners : DESA Aji Kuning di Pulau Sebatik masuk wilayah
Indonesia. Warganya pun orang Indonesia tulen yang kebanyakan berasal dari suku Bone, Sulawesi. Akan tetapi, jangan salahkan jika penduduknya kebingungan kalau harus menentukan harga barang dalam mata uang rupiah. Mereka umumnya menentukan harga barang dalam mata uang ringgit Malaysia. Bukan cuma dalam soal harga barang mereka berpatokan pada Malaysia, untuk siaran televisi pun mereka lebih sering menikmati tayangan televisi Malaysia, seperti TV1, TV2, dan TV3 Malaysia. Tidak mengherankan jika kemudian mereka lebih mengetahui perkembangan sosial dan politik di Malaysia dibandingkan dengan di negeri sendiri. Oleh karena itu, mengenai demonstrasi mahasiswa memprotes kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang marak di Tanah Air, misalnya, mereka tidak tahu. Apalagi soal gosip artis yang setiap hari menghiasi televisi Indonesia, mereka betul-betul awam.
"Kalau menggunakan parabola, bisa pula menangkap siaran televisi Indonesia. Tapi, gambarnya buram dan sering tiba-tiba menghilang," kata Ny Aminah (35) yang tinggal di Desa Aji Kuning, Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur.
Pulau Sebatik, yang jaraknya cuma sekitar setengah jam perjalanan laut dari ibu kota Kabupaten Nunukan, merupakan pulau terluar yang berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sabah, Malaysia. Pulau ini "terbagi" menjadi dua, sebagian masuk wilayah Indonesia dan sebagian lainnya masuk wilayah Malaysia.
Pulau Sebatik yang masuk wilayah Indonesia luasnya sekitar 24.661 hektar dan dinamakan Kecamatan Sebatik. Wilayah ini jauh lebih berkembang dibandingkan dengan wilayah yang masuk Malaysia, dan bahkan sudah ada pasar, sekolah, terminal, puskesmas, serta hotelbertingkat meskipun tidak berbintang. Penduduknya pun lebih banyak, yakni 26.400 jiwa, yang tersebar di delapan desa. Tiga desa di kecamatan tersebut berbatasan langsung dengan wilayah Malaysia, yakni Desa Aji Kuning, Desa Pancang, dan Desa Liang Bunyu. Namun, jangan bayangkan batas ketiga desa dengan Malaysia tersebut dipisahkan sungai, tembok, atau pagar kawat berduri. Tidak ada batas apa pun yang memisahkan kedua negara, kecuali patok beton yang sudah terbenam dalam tanah dan tinggal tersembul setinggi 10 sentimeter.
Bahkan, uniknya, wilayah Rukun Tetangga (RT) 14 Desa Aji Kuning secara de jure sebagian masuk wilayah Malaysia. Meski demikian, penduduk yang sudah bermukim di pulau itu sejak tahun 1975 menganggap hal tersebut bukan masalah, sebab pengukuran batas negara baru dilakukan tahun 1982 ketika permukiman sudah berkembang dan pepohonan penduduk sudah berbuah.
"Kalau dibandingkan dengan penduduk mana pun, penduduk desa sini paling sering ke luar negeri. Sebab, begitu keluar rumah dan melintasi halaman, sudah masuk ke Malaysia," kelakar Achmad (35), sambil satu kakinya menapak di wilayah Indonesia dan kaki lainnya berada di Malaysia. Hanya saja ketika akan melakukan transaksi perdagangan, penduduk Pulau Sebatik lebih suka ke kota Tawau, Malaysia, yang jaraknya sekitar satu jam perjalanan laut. Selain harga barang-barangnya lebih murah, seperti gula, daging, telur, susu, dan bahkan gas elpiji, jarak tempuhnya pun lebih dekat dibandingkan dengan ke kota Tarakan yang harus ditempuh sekitar tiga jam perjalanan laut. Sebaliknya, jika menjual hasil bumi, seperti cokelat, beras, dan lada, harga jual di Malaysia justru lebih tinggi.Secara berkelakar penduduk mengatakan, mereka tetap warga negara Indonesia, tetapi soal mencari rezeki mereka lebih suka memburu ringgit ke Malaysia. Indonesia adalah negaraku, tetapi ringgit uangku. BUKAN cuma penduduk Pulau Sebatik yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Di Pulau Kalimantan daerah perbatasan ini terbentang sepanjang 1.950 kilometer meliputi Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Khusus Kalimantan Timur, yang wilayah perbatasannya sedang disengketakan sekarang ini dengan Malaysia, panjang perbatasannya sekitar 1.038 kilometer atau setara panjang Pulau Jawa dan kondisinya sebagian besar berupa perbukitan serta hutan belantara. Wilayah perbatasan ini terbentang di tiga kabupaten, yakni Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Malinau, dan Kabupaten Nunukan. Meskipun sangat panjang, penduduk yang bermukim di kawasan perbatasan ini cuma sekitar 104.000 jiwa. Selain jumlah penduduknya sangat minim, sarana transportasi pun sangat terbatas, bahkan sebagian besar hanya bisa dijangkau dengan menggunakan pesawat ringan jenis Cessna dan Twin Otter yang mampu mendarat di lapangan rumput desa. Kondisi ini masih ditambah lagi dengan minimnya pos-pos keamanan serta petugas di daerah perbatasan negara. Sepanjang perbatasan Indonesia-Malaysia-sekitar 1.950 kilometer-misalnya, hanya tersedia 30 pos perbatasan. Artinya, setiap pos harus menjaga wilayah sepanjang 65 kilometer. "Padahal, wilayah yang harus kami amankan bukan jalan lurus, tetapi perbukitan yang curam dan terjal," kata seorang personel TNI yang bertugas di Pos Bersama Indonesia-Malaysia di Simanggaris, Kabupaten Nunukan, sekitar 1.350 kilometer dari Kota Balikpapan. Oleh karena itu, tidak gampang pula memantau patok-patok perbatasan yang jumlahnya sekitar 700 buah di Kalimantan Timur, yang tingginya cuma sekitar satu meter di tengah hutan. Apalagi jumlah personel yang diterjunkan pun sangat kurang untuk menjaga keamanan daerah perbatasan yang sedemikian luasnya.
Pemerintah Indonesia sampai saat ini hanya menerjunkan sekitar satu brigade untuk mengamankan daerah perbatasan yang terbentang sepanjang Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Pemerintah Malaysia, menerjunkan petugas pertahanan sebanyak satu divisi yang terbagi dalam tiga brigade. Kondisi di Indonesia masih ditambah lagi dengan minimnya peralatan yang tersedia di pos-pos penjagaan. Dari 30 pos yang ada di sepanjang perbatasan, hanya tersedia enam global positioning system (GPS) serta tidak ada telepon satelit untuk berhubungan dengan jalur komando. Karena itu, tidak heran jika prajurit di lapangan tanpa sengaja masuk Wilayah Malaysia atau prajurit tidak bisa melaporkan apa-apa karena tidak tersedianya telepon satelit. Melihat kondisi inilah, Gubernur Kalimantan Timur Suwarna Abdul Fatah-saat bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk meninjau kawasan perbatasan-meminta agar kawasan perbatasan ditangani secara khusus. Jika perlu, dibentuk suatu badan lintas departemen yang memiliki wewenang menangani dan membangun kawasan perbatasan. Melalui cara ini, kawasan perbatasan diharapkan bukan menjadi daerah "belakang", tetapi merupakan serambi atau "etalase" negara Indonesia. Masyarakat pun bangga berada di daerah perbatasan untuk mengawal negara sehingga tak ada lagi ungkapan Indonesia negaraku, namun ringgit mata uangku.(TRY HARIJONO)
Baca Lebih Lengkap Artikelnya....
Sejarah Terbentuknya Kabupaten Nunukan Kalimantan Timur
Kabupaten Nunukan adalah salah satu
Kabupaten di
provinsi Kalimantan Timur,
Indonesia.
Ibu kota kabupaten ini terletak di
kota Nunukan. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 14.493 km² dan berpenduduk sebanyak 109.527 jiwa (
2004). Motto Kabupaten Nunukan adalah "Penekindidebaya" yang artinya "Membangun Daerah" yang berasal dari bahasa
suku Tidung.
Nunukan juga adalah nama sebuah
kecamatan di
Kabupaten Nunukan,
Provinsi Kalimantan Timur,
Indonesia.
Kabupaten Nunukan merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten Bulungan, yang terbentuk berdasarkan pertimbangan luas wilyah, peningkatan pembangunan, dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Pemekaran Kabupaten bulungan ini di pelopori oleh RA Besing yang pada saat itu menjabat sebagai Bupati Bulungan.
Pada tahun 1999, pemerintah pusat memberlakukan otonomi daerah dengan didasari Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Nah, dgn dasar inilah dilakukan pemekaran pada Kabupaten Bulungan menjadi 2 kabupaten baru lainnya yaitu Kabupaten Nunukan dan kabupaten Malinau.
Pemekaran Kabupaten ini secara hukum diatur dalam UU Nomor 47 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten Kutai Barat, dan Kota Bontang pada tanggal 4 Oktober 1999. Dan dengan dasar UU Nomor 47 tahun 1999 tersebut Nunukan Resmi menjadi Kabupaten dengan dibantu 5 wilayah administratif yakni Kecamatan Lumbis, Sembakung, Nunukan, Sebatik dan Krayan.
Nunukan terletak pada 3° 30` 00" sampai 4° 24` 55" Lintang Utara dan 115° 22` 30" sampai 118° 44` 54" Bujur Timur.
Adapun batas Kabupaten Nunukan adalah:
- Utara; dengan negara Malaysia Timur, Sabah.
- Timur; dengan Laut Sulawesi.
- Selatan; dengan Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Malinau.
- Barat; dengan Negara Malaysia Timur, Serawak
Kata Mutiara Hari Ini
Hidup bukan hidup, mati bukan juga mati, hidup adalah mati, mati adalah hidup, hidup bukan sekedar kematian, hidup adalah sensasi dari kematian, mati bukan sekedar kematian, mati adalah sensasi dari kehidupan, kematian dan kehidupan hanyalah sebuah sensasi dalam suasana ketidaknyataan....