Selamat Datang di Blog Nunukan Zoners Community - Media Komunikasi Informasi Masyarakat Nunukan

Mimpi masa kini adalah kenyataan hari esok.

Anda bisa, jika Anda berpikir bisa, selama akal mengatakan bisa. Batasan apakah sesuatu masuk akal atau tidak, kita lihat saja orang lain, jika orang lain telah melakukannya atau telah mencapai impiannya, maka impian tersebut adalah masuk akal.

Menuliskan tujuan akan sangat membantu dalam menjaga alasan melakukan sesuatu.

Sabtu, 29 Maret 2008

Rumitnya Mengurus Wilayah Perbatasan

NUNUKAN - Tanggal 16 Mei 1895, para penanda tangan The Hague Treaty membagi-bagi pulau terbesar kedua di dunia, Papua, layaknya mengiris kue tart. Satu garis maya, garis 141° Bujur Timur, dijadikan batas wilayah jajahan Belanda dan wilayah jajahan Inggris. Inggris mendapatkan seluruh wilayah di sebelah timur garis maya itu, sedangkan Belanda mendapatkan seluruh wilayah di sebelah barat garis 141° Bujur Timur. Namun, garis maya yang menjadi batas wilayah jajahan itu membelah puluhan kampung, tanah ulayat, wilayah perburuan, dan kebun ratusan suku pribumi di sepanjang perbatasan. Ratusan tanah ulayat itu memiliki banyak perlintasan atau jalan setapak untuk menjalankan aktivitas sehari-hari seperti mengunjungi kerabat, berziarah ke makam leluhur, hingga berburu. Demikian pula tanah ulayat di sepanjang 770 kilometer (km) garis perbatasan yang membentang di kawasan pegunungan, hutan, savana, dan rawa-rawa yang terpencil dan sulit dipantau. Topografi yang berat menyebabkan Indonesia sulit menjalankan kewajibannya merawat 24 tapal penanda garis demarkasi (Mediteranian Monument). Biayanya mahal dan letaknya di kawasan yang sangat terpencil. Sebanyak 11 pos lintas batas juga sulit memantau pelintas batas tradisional karena sulitnya memobilisasi petugas ke pos tersebut. Hanya Pos Pelayanan Lintas Batas Skow di Kota Jayapura dan Pos Lintas Batas di Merauke yang efektif memantau pelintas batas," kata Kepala Badan Perbatasan dan Kerja Sama Daerah Papua Berti Fernandez. Jangankan memantau pelintas batas, penyelundup, atau mengawasi perbatasan kedua negara, mengurus prajurit TNI yang mengamankan perbatasan pun sulit. Puluhan pos TNI di wilayah perbatasan terletak di lokasi yang hanya terjangkau helikopter, sehingga pengiriman logistik sulit dilakukan. Padahal helikopter TNI di Papua hanya ada dua unit, sementara pengiriman logistik harus berpacu dengan cuaca yang berubah-ubah. Jika salah satu helikopter mengalami gangguan, sebagaimana kecelakaan helikopter Pangkalan TNI AU di Jayapura pada 16 November, pengiriman logistik bagi pasukan di perbatasan terancam. Banyak prajurit TNI dari luar Papua yang di bawah komando operasi untuk mengamankan perbatasan RI-Papua Niugini justru terserang malaria.Panglima Komando Daerah Militer XVII/Cenderawasih Mayor Jenderal TNI Haryadi Soetanto mengakui beratnya kondisi prajurit di perbatasan. "Prajurit di perbatasan berada di tempat yang sangat terpencil, dingin, rawan malaria. Banyak pos yang hanya efektif dijangkau dengan helikopter. Dari Merauke ke pos perbatasan di Kabupaten Boven Digul, misalnya, jika ditempuh lewat darat memakan waktu delapan hari," kata Haryadi di Jayapura,. Mengurus dan mengamankan wilayah hanyalah sebagian dari keruwetan mengurus serambi timur Indonesia. Mengurus persoalan sosial dan kemanusiaan di perbatasan Indonesia-Papua Niugini sama rumitnya. Untuk menyesuaikan diri dengan kondisi alam, masyarakat pribumi yang secara alamiah sering berpindah kampung sering berpindah dari wilayah Indonesia ke Papua Niugini. Begitu pula sebaliknya.

Perbedaan mencolok
Berbeda dengan kondisi di perbatasan Indonesia-Papua Niugini yang hampir sama, perbatasan antara Indonesia dan Malaysia di Kalimantan Timur memamerkan ketimpangan yang mencolok. Itu tampak di Pulau Sebatik, Di Desa Sungai Nyamuk, Kecamatan Sebatik, Kabupaten Nunukan, misalnya, sudah lazim lampu lima watt yang remang-remang berpendar dari deretan rumah, toko, dan warung di Jalan Pelabuhan. Jalan yang dibangun darikayu ulin dan selebar 2 meter itu menjorok ke laut menuju Dermaga Pos Sebatik. Daratan lain di seberang dapat ditempuh 15 menit berperah menyeberangi selat, deretan gedung tinggi menjulang dengan gemerlap warna-warni lampu. Kota Tawau di Sabah, Malaysia, sedang mandi cahaya. Sungai Nyamuk adalah satu dari delapan desa di Pulau Sebatik. Tujuh desa lain ialah Tanjung Aru, Tanjung Karang, dan Pancang di Kecamatan Sebatik serta Aji Kuning, Setabu, Binalawan, dan Liang Bunyu di Kecamatan Sebatik Barat. Pulau seluas 20.975 hektar ini dibagi dua, untuk Indonesia dan Malaysia. Bagian pulau di wilayah Indonesia yang berpenduduk sekitar 30.000 jiwa itu dapat dikelilingi dengan jalan sepanjang 95,5 kilometer (km). Namun, hanya 5 kilometer yang mulus. Melintasi jalan rusak itu membuat mobil cepat rusak, padahal suku cadang hanya bisa dibeli di Tawau. Kota terdekat di Indonesia ialah Tarakan di selatan, yang perlu ditempuh tiga jam dengan perahu cepat bermesin. Jangankan punya bandara udara seperti Tawau, di Pulau Sebatik hanya ada satu toko swalayan. Rumah sakit pun tidak ada. Di Pulau Kalimantan membentang garis perbatasan Indonesia dengan Malaysia sepanjang 2.004 km. Sepanjang 1.038 km di Kaltim dan 966 km di Kalbar. Di sepanjang garis itu dipasang 19.328 patok. Panglima Komando Daerah Militer VI/Tanjungpura Mayor Jenderal George Robert Situmeang mengatakan, sebagian patok bergeser masuk ke Indonesia. Caranya seperti sengaja dipindah atau ditabrak kendaraanpengangkut kayu. Di Kaltim terdapat 319 desa di dekat perbatasan dengan Malaysia. Desa-desa itu berada di 11 kecamatan di tiga kabupaten. Penduduk di perbatasan sekitar 120.000 jiwa atau 4 persen dari 3,029 juta jiwa penduduk Kaltim. Mereka bagian dari 29 persen penduduk miskin di provinsi kaya minyak dan gas bumi serta batu bara ini. Penduduk perbatasan pun hidup terisolasi. Desa satu dengan lainnya rata-rata tidak terhubung jalan. Untuk mengatasi berbagai masalah di perbatasan, pemerintah merancang solusi. Salah satunya membangun jalan di garis perbatasan sepanjang 1.038 km.

Baca Lebih Lengkap Artikelnya....

Kamis, 20 Maret 2008

Rumitnya Mengurus Wilayah Perbatasan

Tanggal 16 Mei 1895, para penanda tangan The Hague Treaty membagi-bagi pulau terbesar kedua di dunia, Papua, layaknya mengiris kue tart. Satu garis maya, garis 141° Bujur Timur, dijadikan batas wilayah jajahan Belanda dan wilayah jajahan Inggris. Inggris mendapatkan seluruh wilayah di sebelah timur garis maya itu, sedangkan Belanda mendapatkan seluruh wilayah di sebelah barat garis 141° Bujur Timur. Namun, garis maya yang menjadi batas wilayah jajahan itu membelah puluhan kampung, tanah ulayat, wilayah perburuan, dan kebun ratusan suku pribumi di sepanjang perbatasan. Ratusan tanah ulayat itu memiliki banyak perlintasan atau jalan setapak untuk menjalankan aktivitas sehari-hari seperti mengunjungi kerabat, berziarah ke makam leluhur, hingga berburu. Demikian pula tanah ulayat di sepanjang 770 kilometer (km) garis perbatasan yang membentang di kawasan pegunungan, hutan, savana, dan rawa-rawa yang terpencil dan sulit dipantau. Topografi yang berat menyebabkan Indonesia sulit menjalankan kewajibannya merawat 24 tapal penanda garis demarkasi (Mediteranian Monument).
"Biayanya mahal dan letaknya di kawasan yang sangat terpencil. Sebanyak 11 pos lintas batas juga sulit memantau pelintas batas tradisional karena sulitnya memobilisasi petugas ke pos tersebut. Hanya Pos Pelayanan Lintas Batas Skow di Kota Jayapura dan Pos Lintas Batas di Merauke yang efektif memantau pelintas batas," kata Kepala Badan Perbatasan dan Kerja Sama Daerah Papua Berti Fernandez. Jangankan memantau pelintas batas, penyelundup, atau mengawasi perbatasan kedua negara, mengurus prajurit TNI yang mengamankan perbatasan pun sulit. Puluhan pos TNI di wilayah perbatasan terletak di lokasi yang hanya terjangkau helikopter, sehingga pengiriman logistik sulit dilakukan. Padahal helikopter TNI di Papua hanya ada dua unit, sementara pengiriman logistik harus berpacu dengan cuaca yang berubah-ubah. Jika salah satu helikopter mengalami gangguan, sebagaimana kecelakaan helikopter Pangkalan TNI AU di Jayapura pada 16 November, pengiriman logistik bagi pasukan di perbatasan terancam. Banyak prajurit TNI dari luar Papua yang di bawah komando operasi untuk mengamankan perbatasan RI-Papua Niugini justru terserang malaria.Panglima Komando Daerah Militer XVII/Cenderawasih Mayor Jenderal TNI Haryadi Soetanto mengakui beratnya kondisi prajurit di perbatasan. "Prajurit di perbatasan berada di tempat yang sangat terpencil, dingin, rawan malaria. Banyak pos yang hanya efektif dijangkau dengan helikopter. Dari Merauke ke pos perbatasan di Kabupaten Boven Digul, misalnya, jika ditempuh lewat darat memakan waktu delapan hari," kata
Haryadi di Jayapura,. Mengurus dan mengamankan wilayah hanyalah sebagian dari keruwetan mengurus serambi timur Indonesia. Mengurus persoalan sosial dan kemanusiaan di perbatasan Indonesia-Papua Niugini sama rumitnya. Untuk menyesuaikan diri dengan kondisi alam, masyarakat pribumi yang secara alamiah sering berpindah kampung sering berpindah dari wilayah Indonesia ke Papua Niugini. Begitu pula sebaliknya.

Perbedaan mencolok
Berbeda dengan kondisi di perbatasan Indonesia-Papua Niugini yang hampir sama, perbatasan antara Indonesia dan Malaysia di Kalimantan Timur memamerkan ketimpangan yang mencolok. Itu tampak di Pulau Sebatik, Di Desa Sungai Nyamuk, Kecamatan Sebatik, Kabupaten Nunukan, misalnya, sudah lazim lampu lima watt yang remang-remang berpendar dari deretan rumah, toko, dan warung di Jalan Pelabuhan. Jalan yang dibangun darikayu ulin dan selebar 2 meter itu menjorok ke laut menuju Dermaga Pos Sebatik. Daratan lain di seberang dapat ditempuh 15 menit berperah menyeberangi selat, deretan gedung tinggi menjulang dengan gemerlap warna-warni lampu. Kota Tawau di Sabah, Malaysia, sedang mandi cahaya. Sungai Nyamuk adalah satu dari delapan desa di Pulau Sebatik. Tujuh desa lain ialah Tanjung Aru, Tanjung Karang, dan Pancang di Kecamatan Sebatik serta Aji Kuning, Setabu, Binalawan, dan Liang Bunyu di Kecamatan Sebatik Barat. Pulau seluas 20.975 hektar ini dibagi dua, untuk Indonesia dan Malaysia. Bagian pulau di wilayah Indonesia yang berpenduduk sekitar 30.000 jiwa itu dapat dikelilingi dengan jalan sepanjang 95,5 kilometer (km). Namun, hanya 5 kilometer yang mulus. Melintasi jalan rusak itu membuat mobil cepat rusak, padahal suku cadang hanya bisa dibeli di Tawau. Kota terdekat di Indonesia ialah Tarakan di selatan, yang perlu ditempuh tiga jam dengan perahu cepat bermesin. Jangankan punya bandara udara seperti Tawau, di Pulau Sebatik hanya ada satu toko swalayan. Rumah sakit pun tidak ada. Di Pulau Kalimantan membentang garis perbatasan Indonesia dengan Malaysia sepanjang 2.004 km. Sepanjang 1.038 km di Kaltim dan 966 km di Kalbar. Di sepanjang garis itu dipasang 19.328 patok. Panglima Komando Daerah Militer VI/Tanjungpura Mayor Jenderal George Robert Situmeang mengatakan, sebagian patok bergeser masuk ke Indonesia. Caranya seperti sengaja dipindah atau ditabrak kendaraanpengangkut kayu. Di Kaltim terdapat 319 desa di dekat perbatasan dengan Malaysia. Desa-desa itu berada di 11 kecamatan di tiga kabupaten. Penduduk di perbatasan sekitar 120.000 jiwa atau 4 persen dari 3,029 juta jiwa penduduk Kaltim. Mereka bagian dari 29 persen penduduk miskin di provinsi kaya minyak dan gas bumi serta batu bara ini. Penduduk perbatasan pun hidup terisolasi. Desa satu dengan lainnya rata-rata tidak terhubung jalan. Untuk mengatasi berbagai masalah di perbatasan, pemerintah merancang solusi. Salah satunya membangun jalan di garis perbatasan sepanjang 1.038 km.

Baca Lebih Lengkap Artikelnya....

Selasa, 18 Maret 2008

Tips Merawat Ban Sepeda Motor

Ban, piranti yang memegang peranan vital pada sepeda motor. So merawat si bundar ini sudah pasti menjadi ritual wajib bagi pengendara sepedamotor, selain sebagai penghematan, merawat ban dengan benar juga turut menjaga keselamatan pengendara maupun penumpangnya.

Tekanan udara ban yang tak tepat sangat mempengaruhi keseimbangan dan stabilitas laju sepeda motor. Jangan pernah memakai ban lain kecuali yang ditetapkan oleh pabrikan sepeda motor karena fungsi ban yang sangat vital bagi sepeda motor Anda perlu mengetahui penyebab kerusakannya seperti:

Ban bocor

Periksalah apakah pentil ban mengalami kebocoran. Untuk memeriksanya lepaskanlah tutup pentil dan taruhlah air sabun di atas lubang pentil. Bila air sabun membentuk gelembung udara, bisa dipastikan pentil tersebut bocor. Bila bocor keraskanlah pentil tersebut dengan memakai alat pengencang pentil yang ada di tutup pentil. Tetapi bila masih bocor, pentil tersebut rusak dan harus diganti dengan yang baru. Periksalah apakah ban terkena paku atau benda-benda tajam lainnya.

Ban aus secara abnormal

Periksalah apakah tekanan ban sudah benar. Jika telapak atau tread ban telah aus, ban mudah tertusuk dan rusak. Tekanan ban harus disetel supaya sesuai beban pada sepeda motor. Jangan sampai sepeda motor dibebani berlebihan karena dapat menyebabkan ban cepat rusak.

Ban berputar tak teratur

Periksalah apakah ban berputar sudah seimbang dan periksa apakah jari-jari telah dikencangkan secara benar? Tak ada salahnya juga anda mencermati dan memperhatikan hal berikut:

Perhatikan kapasitas muatan sepedamotor Anda meskipun kecepatan sepedamotor juga ambil peranan penting dalam hal ini. Sesuaikan ban dengan kondisi jalan yang dilewati.

Tekanan

Periksa secara rutin tekanan angin (baiknya setiap hari pada saat udara dingin). Samakan tekanan angin antara yang depan dan belakang. Sebab laju sepedamotor yang tidak seimbang berbahaya sekali buat mengendarai dan pengereman.

Jarak tempuh

Periksa jarak tempuh dan sisi luar ban, untuk menjaga keselamatan. Setiap 10.000 km keseimbangan dan kelurusan ban harus dicek. Apalagi bila sering digunakan dengan kecepatan tinggi. Lakukan rotasi diantara kedua ban. Sebaiknya gunakan ban dengan diameter yang ditentukan dari standar sepedamotor Anda.

Selain jarak tempuh, suhu dan cuaca juga mempengaruhi keawetan ban juga. Kondisi jalan yang panas pada musim kemarau menyebabkan usia ban bertambah lebih pendek dibandingkan musim hujan. Selain itu cara mengemudi dari pengendara juga bisa mempengaruhi keawetan ban tersebut. Cara memulai jalan yang mendadak dan pengereman mendadak, berpengaruh besar dengan keawetan ban.

Demi keselamatan, kenyamanan dan keawetan usia ban cobalah selalu menjalankan sepedamotor Anda dengan baik dan benar. Selamat berkendara. ....

Baca Lebih Lengkap Artikelnya....

Lumba2 Air Tawar ditemukan di Sesayap

Habitat baru lumba-lumba air tawar atau Orcaella
brevirostis ditemukan di Sungai Sesayap, perbatasan Kabupaten MaPesut Mahakam (foto Yayasan RASI)linau dan
Kabupaten Tanah Tidung, Kalimantan Timur, oleh tim survei dari Balai Taman
Nasional Kayan Mentarang. Penemuan ini sangat berarti dari sisi ilmu
pengetahuan karena pesut atau lumba-lumba air tawar yang hampir punah ini
sebelumnya hanya ditemukan di Sungai Mahakam dan Teluk Balikpapan,
Kalimantan Timur.

“Tidak mungkin hewan mamalia air tawar tersebut migrasi dari Sungai Mahakam
ke Sungai Sesayap karena jaraknya ribuan kilometer dan terpisahkan laut,”
kata Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang IGNN Sutedja ketika
dihubungi dari Jakarta, Senin (11/2).

Menurut Sutedja, pesut atau lumba-lumba air tawar tersebut ditemukan tim
survei Taman Nasional Kayan Mentarang ketika menyusuri Sungai Sesayap,
Senin. Sekitar pukul 10.11 Wita di sekitar Teluk Sesino terlihat seekor
pesut muda yang muncul ke permukaan air dan langsung direkam kamera video.
Sekitar pukul 16.10 kembali terlihat enam ekor pesut di sekitar perairan
Lubok Langit sehingga dalam sehari teridentifikasi tujuh ekor pesut.

Budi Hartono, penggiat lingkungan dari Matoa Albarits yang ikut melakukan
survei, mengatakan, taksonomi pesut Sungai Sesayap dengan pesut Sungai
Mahakam kemungkinan besar sama. “Klasifikasi dan identifikasi pesut di kedua
habitat yang berbeda tersebut harus dikaji lebih lanjut,” ujarnya.

Meski sering disebut lumba-lumba air tawar, pesut sebenarnya bukan
lumba-lumba. Dari segi bentuknya saja, pesut memiliki bentuk muka lebar,
dahi menonjol, dan tidak memiliki moncong. Selain itu, celah bibir pesut
membentang ke belakang dengan posisi naik mendekati mata. Adapun lumba-lumba
bentuknya “lebih cantik” dengan kepala lonjong, memiliki moncong, dan mulut
membentang pendek ke belakang dengan posisi mendatar.

Jika lumba-lumba perilakunya atraktif, pesut justru sedikit pendiam. Jika
lumba-lumba melaju kencang saat berenang dan sesekali meloncat ke atas
permukaan air, pesut justru sebaliknya. Pesut berenang dengan gerakan yang
sangat kalem. (THY)

Baca Lebih Lengkap Artikelnya....

Kelong, Alat penangkap ikan Tradisional suku Tidung


Kelong adalah Alat penangkap ikan atau hasil laut lainnya yang dipasang di pesisir pantai, Kelong pada umumnya terbuat dari anyaman bambu (Tanang) yang dibuat sedemikian rupa hingga berbentuk dinding, Kelong terdiri dari beberapa bagian antara lain :
Pemanjang

  • Leminan : Berbentuk ruang love dengan garis lurus yang ukurannya paling besar besar
  • Ligau satu : sama dengan leminan, cuman ukurannya agak sedang
  • Ligau dua : Berbentuk persegi panjang, ukurannya lebih kecil
  • Ligau tiga : Ukurannya paling kecil dan berbentuk lingkaran.
Sekarang Kelong(Tamba') tidak lagi terbuat dari bambu tapi terbuat dari benang tugu yang berbentuk jaring sehingga lebih kuat dan tahan lama.

Di pulau Tarakan Kelong masih dapat kita jumpai dipesisir selatan Pantai Tarakan (Kec. Tarakan Timur) Jumlahnya sekitar 20 an. Kita dapat melihatnya dari Pelabuhan Melundung hingga ke Pantai Amal.
Kelong Ambruk dihantam Angin Kencang pada malam hari

Beberapa Kelong yang masih Aktif disekitar pantai Peningki

Baca Lebih Lengkap Artikelnya....

Senin, 17 Maret 2008

Peta Nunukan



Baca Lebih Lengkap Artikelnya....

Lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan

oleh :

Kolonel Ctp Drs. Umar S. Tarmansyah, Peneliti Puslitbang SDM Balitbang Dephan

Putusan Mahkamah Internasional/MI,International Court of Justice (ICJ) tanggal 17-12-2002 yang telah mengakhiri rangkaian persidangan sengketa kepemilikan P. Sipadan dan P. Ligitan antara Indonesia dan Malaysia mengejutkan berbagai kalangan. Betapa tidak, karena keputusan ICJ mengatakan kedua pulau tersebut resmi menjadi milik Malaysia.Disebutkan dari 17 orang juri yang bersidang hanya satu orang yang berpihak kepada Indonesia. Hal ini telah memancing suara-suara sumbang yang menyudutkan pemerintah khususnya Deplu dan pihak-pihak yang terkait lainnya. Dapat dipahami munculnya kekecewaan di tengah-tengah masyarakat, hal ini sebagai cermin rasa cinta dan kepedulian terhadap tanah air.

Ada hal yang menggelitik dari peristiwa ini, mengapa kita kalah begitu telak, padahal perkiraan para pemerhati atas putusan ICJ “fifty-fifty”, karena dasar-dasar hukum, peta dan bukti-bukti lain yang disiapkan oleh kedua pihak relatif berimbang. Dari penjelasan yang di “release” mass media, ternyata ICJ/MI dalam persidangan-persidangannya guna mengambil putusan akhir, mengenai status kedua Pulau tersebut tidak menggunakan (menolak) materi hukum yang disampaikan oleh kedua negara, melainkan menggunakan kaidah kriteria pembuktian lain, yaitu “Continuous presence, effective occupation, maintenance dan ecology preservation”. Dapat dimengerti bilamana hampir semua Juri MI yang terlibat sepakat menyatakan bahwa P. Sipadan dan P. Ligitan jatuh kepada pihak Malaysia karena kedua pulau tersebut tidak begitu jauh dari Malaysia dan faktanya Malaysia telah membangun beberapa prasarana pariwisata di pulau-pulau tersebut.

Sia-sialah perjuangan Indonesia selama belasan tahun kita memperjuangkan kedua pulau tersebut kedalam wilayah Yurisdiksi kedaulatan NKRI, ini akibat dari kekurang-seriusan kita dalam memperjuangkannya, itulah komentar-komentar yang muncul. Benarkah birokrat kita kurang serius memperjuangkan pemilikan dua pulau tersebut ?

Dari rangkaian panjang upaya yang dilakukan rasanya perjuangan kita cukup serius. Putusan MI sudah final dan bersifat mengikat sehingga tidak ada peluang lagi bagi Indonesia untuk mengubah putusan tersebut. Tidak patut lagi kekalahan ini harus diratapi, yang terpenting bagaimana kita mengambil pelajaran untuk ke depan jangan sampai kecolongan lagi untuk ketiga kalinya.

Sekilas mengenai proses penyelesaian sengketa pulau Sipadan dan pulau Ligitan.

Kasus P. Sipadan dan P. Ligitan mulai muncul sejak 1969 ketika Tim Teknis Landas Kontinen Indonesia – Malaysia membicarakan batas dasar laut antar kedua negara. Kedua pulau Sipadan dan Ligitan tertera di Peta Malaysia sebagai bagian dari wilayah negara RI, padahal kedua pulau tersebut tidak tertera pada peta yang menjadi lampiran Perpu No. 4/1960 yang menjadi pedoman kerja Tim Teknis Indonesia. Dengan temuan tersebut Indonesia merasa berkepentingan untuk mengukuhkan P. Sipadan dan P. Ligitan. Maka dicarilah dasar hukum dan fakta historis serta bukti lain yang dapat mendukung kepemilikan dua pulau tersebut. Disaat yang sama Malaysia mengklaim bahwa dua pulau tersebut sebagai miliknya dengan mengemukakan sejumlah alasan, dalil hukum dan fakta. Kedua belah pihak untuk sementara sepakat mengatakan dua pulau tersebut dalam “Status Quo”.Dua puluh tahun kemudian (1989), masalah P. Sipadan dan P. Ligitan baru dibicarakan kembali oleh Presiden Soeharto dan PM. Mahathir Muhamad.

Tiga tahun kemudian (1992) kedua negara sepakat menyelesaikan masalah ini secara bilateral yang diawali dengan pertemuan pejabat tinggi kedua negara. Hasil pertemuan pejabat tinggi menyepakati perlunya dibentuk Komisi Bersama dan kelompok Kerja Bersama (Joint Commission/JC & Joint Working Groups/JWG).Namun dari serangkaian pertemuan JC dan JWG yang dilaksanakan tidak membawa hasil, kedua pihak berpegang (comitted) pada prinsipnya masing-masing yang berbeda untuk mengatasi kebutuan. Pemerintah RI menunjuk Mensesneg Moerdiono dan dari Malaysia ditunjuk Wakil PM Datok Anwar Ibrahim sebagai Wakil Khusus pemerintah untuk mencairkan kebuntuan forum JC/JWG.Namun dari empat kali pertemuan di Jakarta dan di Kualalumpur tidak pernah mencapai hasil kesepakatan.

Pada pertemuan tgl. 6-7 Oktober 1996 di Kualalumpur Presiden Soeharto dan PM. Mahathir menyetujui rekomendasi wakil khusus dan selanjutnya tgl. 31 Mei 1997 disepakati “Spesial Agreement for the Submission to the International Court of Justice the Dispute between Indonesia & Malaysia concerning the Sovereignty over P. Sipadan and P. Ligitan”. Special Agreement itu kemudian disampaikan secara resmi ke Mahkamah International pada 2 Nopember 1998. Dengan itu proses ligitasi P. Sipadan dan P. Ligitan di MI/ICJ mulai berlangsung. Selanjutnya penjelasan dua pulau tersebut sepenuhnya berada di tangan RI.

Namun demikian kedua negara masih memiliki kewajiban menyampaikan posisi masing-masing melalui “ Written pleading “ kepada Mahkamah Memorial pada 2 Nopember 1999 diikuti, “Counter Memorial” pada 2 Agustus 2000 dan “reply” pada 2 Maret 2001. Selanjutnya proses “Oral hearing” dari kedua negara bersengketa pada 3 –12 Juni 2002 . Dalam menghadapi dan menyiapkan materi tersebut diatas Indonesia membentuk satuan tugas khusus (SATGASSUS) yang terdiri dari berbagai institusi terkait yaitu : Deplu, Depdagri, Dephan, Mabes TNI, Dep. Energi dan SDM, Dishidros TNI AL, Bupati Nunukan, pakar kelautan dan pakar hukum laut International.

Indonesia mengangkat “co agent” RI di MI/ICJ yaitu Dirjen Pol Deplu, dan Dubes RI untuk Belanda. Indonesia juga mengangkat Tim Penasehat Hukum Internationl (International Counsels). Hal yang sama juga dilakukan pihak Malaysia. Proses hukum di MI/ICJ ini memakan waktu kurang lebih 3 tahun. Selain itu, cukup banyak energi dan dana telah dikeluarkan. Menlu Hassas Wirayuda mengatakan kurang lebih Rp. 16.000.000.000 dana telah dikeluarkan yang sebagian besar untuk membayar pengacara. Dengan demikian tidak tepat bila dikatakan pihak Indonesia tidak serius memperjuangkan P. Sipadan dan P. Ligitan.

KONDISI WILAYAH PERBATASAN INDONESIA

*

Penegasan Batas.

Indonesia berbatasan di darat dengan Malaysia, Papua Nugini (PNG) dan Timor Larose. Proses penegasan batas darat dengan Malaysia yang dilaksanakan sejak tahun 1975 yang panjang mencapai lebih dari 2000 km, hampir selesai dilaksanakan ( teknis dilapangan) oleh tim Teknis penegasan Batas Bersama (Joint Border Demarcation Team).

Penegasan batas dengan PNG telah berhasil menyelesaian pilar batas utama (Monumen Meridian/MM). Dan sekarang dalam tahap perapatan pilar batas. Namun dikarenakan berbagai kendala proses perapatan pilar batas ini sejak tahun 2000 berhenti. Sementara itu penegasan batas dengan Timor Larosae sudah dirintis sejah pemerintahan pewakilan PBB (UNTAET) dan sekarang telah sampai pada tahap survey penyelidikan lapangan (Joint Reconnaissance Surveys).

Penegasan batas wilayah negara di laut diwujudkan dengan cara menentukan angka koordinat geografi yang digambar di atas peta laut, sebagai hasil kesepakatan bersama melalui perundingan bilateral. Batas laut ini terdiri dari batas laut wilayah/teritorial, batas landas kontinen dan batas zona ekonomi Ekslusif (ZEE). Indonesia yang berbatasan di laut tidak kurang dengan 10 negara, baru sebagian kecil saja batas lautnya yang telah ditegaskan antara lain dengan Malaysia, Singapura, Australia, PNG, Thailand dan India. Hal itupun bersifat parsial, belum secara tuntas menyelesaikan seluruh segmen batas dan jenis batas laut.

*

Kondisi Wilayah Perbatasan.

Wilayah perbatasan (Wiltas) darat antar RI dengan Malaysia, PNG dan Timor Larosae terdiri dari daerah pegunungan, dengan konfigurasi medan yang berat/terjal, bervegetasi hutan yang relatif rapat dengan penduduk sangat jarang. Kondisi demikian dikarenakan pemerintah tidak menjadikan Wiltas sebagai prioritas dalam program pembangunan baik oleh pemerintah pusat maupun Pemda. Selama lebih dari 30 tahun pemerintahan Orde Baru, Wiltas diposisikan sebagai daerah pinggiran/periferal atau daerah belakang yang sering terabaikan. Dalam pembangunannya, namun sumber daya alamnya, khususnya kayu dieksploitasi dengan serampangan secara besar-besaran. Hal tersebut meninggalkan keprihatinan dan luka hati yang dalam bagi penduduk Wiltas. Ironinya kerusakan hutan yang terjadi sering ditimpakan kepada penduduk Wiltas. Akibatnya, penduduk Wiltas yang semula sangat peduli dengan lingkungan (menyatu dengan alam) menjadi berubah drastis.

Mereka pada akhirnya mulai berkolusi dengan para penjarah hutan tersebut. Mereka juga mulai berfikir dan bersikap materialistis-konsumeris. Sementara itu sikap moral dan pengabdiannya terhadap lingkungan mulai tergerus menipis. Orientasi penduduk Wiltas terutama anak-anak mulai berubah. Setelah TV, Radio, Parabola masuk Wiltas, mereka mulai mengenal budaya “jalan pintas” untuk menjadi kaya. Mereka banyak yang meninggalkan kampungnya, me-ngubah mata pencarian dan berspekulasi di kota terdekat. Itulah proses degradasi lingkungan dan komunitas Wiltas.

Wilayah Perbatasan Laut (Wiltasla). Kondisi Wiltasla lebih memprihatinkan lagi. Penduduk pulau–pulau perbatasan laut seperti penduduk Kep. Sangir dan Talaud (Satal) di Sulawesi Utara, kondisinya secara umum tidak bertambah maju. Bahkan jumlahnyapun malah berkurang. Hal ini disebabkan kesulitan hidup karena lokasi geografi yang terpencil dan faktor keganasan badai laut. Kaum muda di sini juga banyak yang pindah ke daratan Sulawesi Utara. Hal yang hampir sama juga terjadi di P. Miangas (Palmas), Kep Natuna dan pulau-pulau Wiltas lainnya.

Sementara itu, kekayaan laut Wiltasla banyak dirambah nelayan asing. Dengan kapal modern dan peralatan yang canggih, mereka bebas berkeliaran di perairan Wiltasla kita tanpa rasa takut, karena jarang aparat Kamla kita yang berpatroli di sana. Sementara penduduk setempat tidak berdaya mengusir mereka. Bahkan penduduk (sebagian) tidak merasa perlu mengusir para penjarah ikan itu, karena mereka memberi manfaat bagi penduduk setempat. Sikap penduduk Wiltas yang demikian tidak perlu dipersalahkan, karena mereka bodoh tidak tersentuh pemberdayaan SDM, apatah lagi sikap Bela Negara.

*

Upaya yang perlu dilaksanakan.

Untuk meningkatkan pengamanan di Wiltas, maka harus dilakukan perkuatan atau peningkatan kemampuan secara sinergis antara komunitas penduduk perbatasan dengan aparat Hankam di Wiltas.

Persepsi, strategi dan kebijakan pembangunan Wiltas seyogiannya diubah. Selama ini Wiltas dipandang sebagai daerah pinggiran (periphery areas atau border areas). Kita harus punya keberanian mengubah paradigma ini menjadikan Wiltas sebagai daerah depan (frontier areas). Mengapa demikian, karena daerah ini langsung bersentuhan dengan luar negeri. Bagi pihak asing (negara tetangga) kesan pertama mereka atas Indonesia diperoleh dari kondisi lingkungan dan komunitas penduduk perbatasan. Dengan demikian, Wiltas menjadi “Cermin” Indonesia.

*

Beberapa langkah yang dapat ditempuh untuk memberdayakan Wiltas.

Merancang konsep pembedayaan Wiltas secara terpadu baik fisik maupun non fisik (SDM) sesuai potensi sumberdaya yang ada. Dalam konsep Bangwiltas terpadu ini termasuk sektor Hankam Wiltas. Dalam hal ini, posisi penduduk sebagai subyek pembangunan yang aktif. Setiap pembangunan dari masing-masing sektor (Ipoleksosbud Hankam) harus dirancang untuk saling memberi manfaat. Pembangunan dapat diawali dengan prasarana transportasi (jalan, terminal, bandara, pelabuhan dll) yang dikonsep tidak saja untuk kegiatan sosial, ekonomi, budaya, namun harus dapat dimanfaatkan untuk kemudahan operasi

Hankam. Selanjutnya pembangunan ekonomi dengan memprioritaskan sumberdaya permukaan (tanah dan hutan). Tidak ada salahnya kita berguru kepada Malaysia, bagaimana mereka menata jaringan jalan dan perkebunan sawit serta hutan secara teratur dan terkonsep yang sangat berbeda kenampakannya dengan Wiltas di Kalimantan yang semraut.

Prioritaskan penyelesaian penegasan batas negara, termasuk pemetaan dalam skala yang memadai (Wiltasrat 1 ; 50.000 dan Wiltasla 1 ; 250.000). Peta standar ini penting sebagai sarana operasi Hankam dan pembangunan (sebagian sudah dilaksanakan Dittopad dan Dishidros TNI-AL).

Tingkatkan Operasi, pengamanan Wiltas secara periodik, terkoordinasi, dan sekali–sekali kerjasama dengan negara tetangga sambil mensosialisasikan wilayah tanggung jawab masing-masing. Untuk mendukung Pamwiltas ini dapat juga digunakan jasa Satelit dan penerbangan perintis lintas zona perbatasan misalnya : Dari Pontianak ke Kota Kinabalu (Malaysia) dan dari Jaya Pura ke Port Moresby (PNG).

Pemberian subsidi yang memadai untuk aparat dan pegawai negeri serta masyarakat Wiltas. Tanpa subsidi hidup di Wiltas terasa sangat berat karena biaya hidup di sana sangat mahal. Seharusnya subsidi yang diberikan di Wilayah Satal, Natuna, Miangas lebih besar dari pada yang bertugas/yang tinggal di Irian/Papua. Untuk masyarakat, subsidi hendaknya diprioritaskan untuk sektor pendidikan, pangan pokok, kesehatan dan modal usaha kecil.

*

Pelajaran yang dapat diambil.

Ketika pemerintah memutuskan jajak pendapat di Timor-Timor untuk menentukan apakah rakyat Tim-Tim akan memilih tetap bergabung (Integrasi) NKRI atau merdeka, tidak begitu banyak kalangan yang menentang karena di atas kertas pihak pro integrasi diperkirakan akan menang, setidak-tidaknya fifty-fifty. Namun, ternyata setelah jejak pendapat dilaksanakan, pihak pro integrasi kalah dengan presentase secara menyolok (kurang lebih 23,5 %). Demikian pula dengan kasus P. Sipadan dan P. Ligitan, perkiraan menang-kalah 50% - 50%, sehingga minimal P. Sipadan masih bisa menjadi milik Indonesia kenyataannya, Indonesia kalah secara meyakinkan.

Dari dua kasus di atas dapat diambil kesimpulan, pertama patut diduga bahwa dalam kedua kasus di atas ada pihak ketiga yang turut “bermain” untuk merugikan Indonesia. Kedua, sesuatu kebijakan yang diambil pemerintah yang berdampak pada resiko kehilangan sebagian wilayah tanah air harus dipertimbangkan dengan seksama melibatkan semua komponen bangsa, bahkan kalau bisa, dihindari.

Ketiga, mencermati pengambilan putusan MI yang didasarkan pada kriteria “Continuous presence, dan effective occupation” hal ini memberikan signal negatif dan preseden buruk yang menuntut kehati-hatian dan kewaspadaan kedepan.

Ada beberapa pulau kecil terpencil yang secara posisi geografis kedudukannya lebih dekat dengan negara tetangga yang diindikasikan memiliki keinginan memperluas wilayah. Pulau-pulau tersebut antara lain, P. Nipah dan beberapa pulau Karang tak berpenduduk yang berbatasan dengan Singapura. P. Rondo berbatasan dengan Kepulauan Andaman (India), P. Miangas berbatasan dengan Philipina, P. Pasir Putih berbatasan dengan Australia dan ada satu pulau kosong di Kalimantan Barat yang dihuni nelayan Thailand. Negara-negara tetangga memiliki kesempatan terbuka untuk menguasai pulau-pulau tersebut dengan menggunakan pendekatan pembinaan Continuous Presence dan Effective Occupation. Selama ini penghidupan penduduk pulau-pulau tersebut banyak bergantung kepada negara tetangga terutama segi-ekonomi. Mereka juga lebih banyak menonton televisi dari siaran TV Malaysia atau Singapura. Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap kebudayaan dan komitmen, hak dan kewajiban mereka selaku warga negara RI.

PENUTUP.

Demikian tulisan ini dibuat sebagai sumbangan pendapat dan bahan masukan perbicangan lebih jauh tentang pemberdayaan Wiltas, khususnya di bidang Hankam Wiltas.

Daftar Pustaka :

1. Pustaka TNI, Batas Laut Negara RI, Jakarta, 1999

2. Adi Sumardiman, Ir, SH, Sipadan dan Ligitan, SK. Kompas, Jakarta, 18 Desember 2002.

3. Frans B. Workala, SPd, MM, Pengembangan, Sumber Kekayaan Alam Daerah Perbatasan Dalam Rangka Meningkatkan Ketahanan Nasional, Taskap KSA X Lemhannas, Jakarta 2002

4. Hasjim Djalal, Prof. DR, Penyelesaian Sengketa Sipadan Ligitan, Interpelasi ?, SK Kompas, Jakarta, 13 Januari 2003.

5. Umar S. Tarmansyah, Drs, Makna Fungsi Batas Negara Dalam Bingkai Pembinaan Daerah Pertahanan, Karmil, Jakarta, 2000.

6. Umar S. tarmansyah, Drs, Pemanfaatan Teknologi Penginderaan Jauh Untuk Pertahanan Keamanan dan Pembangunan Nasional, Jakarta, 1998

7. SK. Kompas, Sipadan-Ligitan, Ujian Kematangan Suatu Bangsa, Jakarta, 18 Desember 2002.

8. SK Kompas, Sangir Bobol, Indonesia Terancam, Jakarta, 23 Desember 2002.



Baca Lebih Lengkap Artikelnya....

Jumat, 14 Maret 2008

Nasib Lautku yang berada di Perbatasan..................

NUNUKAN - Indonesia merupakan negara kepulauan dari sabang sampai merauke, yang memiliki wilayah laut yang cukup luas, yakni diperkirakan sebesar 5.8 juta km2 dengan garis pantai terpanjang di dunia sebesar 81.000 km dan gugusan pulau-pulau sebanyak 17.508. Luar bisa bgeri dengan beribu pulau dan khasanah budaya yang majemuk. Namun apa yang terjadi, dengan tersedianya sumber daya yang sebanyak itu kita, terutama penduduk pesisir indonesia yang nota bene adalah nelayan, petani tambak dan budidaya. Belum lagi kita berbicara tentang pariwisata laut indonesia yang seabreg. Begitupun bila kita tinjau dari sisi strategis, Indonesia memiliki selat malaka yang sangat terkenal dengan jalur perairan tersibuk di dunia, yang memiliki potensi sangat besar dalam mendatangkan pendapatan bagi negara dari segi transportasi kelautan dan bea cukai barang. Namun apa yang bisa kita lihat, kita selalu terpecundangi dalam hal kelautan, selalu saja ikan kita di ambil oleh nelayan asing. Pulau-pulau sampai budaya khas kita diambil oleh negara tetangga kita negara Malaysia yang mengaku-ngaku sebagai negara serumpun dengan Indonesia. Luas wilayah laut kita pun juga tak luput dari penjajahan era baru dari negara tetangga kita. Lihat saja sekarang wilayah daratan negara tetangga kita singapura bertambah secara siknifikan, dan bermunculan menjadi casino dan tempat-tempat yang bernilai cukup wah harganya.Tapi di lain pihak siapa yang sangat dirugikan? ya bangsa kita Indonesia, ketika singapura mulai unjuk gigi karena wilayah daratanya semakin luas hingga mengurangi wilayah perairan negeri kita di selat malaka, mirisnya banyak sekali pulau-pulau kita tenggelam karena pasir-pasir lautnya diangkut semua ke negeri singa. Dan yang tak kalah menggeramkan lagi pasir-pasir tersebut dijual dengan harga sangat murah sekali, dibawah satndart harga internasional. Lagi-lagi negriku dipecundangi tetangga dekatnya. Yang tak kalah tragisnya lagi nelayan-nelayan kita tetap saja tidak memiliki bargain yang signifikan dalam pendapatan mereka. Selama bertahun-tahun memanfaatkan sumberdaya kelautan, ilmu mereka juga bisa kita katakan masih cetek dalam managemen kelautan mereka, apalagi dalam hal teknologi. Sementara nelayan dari negara lain yang sering kali masuk perairan Indonesia untuk nyolong ikan kita menggunakan global positioning system (GPS) untuk menetukan kemana arah mereka berburu ikan, nelayan kita masih mengandalkan tanda-tanda alam untuk memulai perburuan. Sekali lagi negeri ini sebetulnya negeri yang kaya raya di sumber daya kelautan, namun di dalamnya banyak sekali orang yang malas untuk belajar dan enggan untuk terus mengasah kemampuan khususnya dalam berbagai aspek kelautan. Kurang adanya prioritas pembangunan di sektor kelautan menambah berat upaya untuk menggali potensi didalamnya. Padahal sebetulnya sumberdaya kelautan merupakan aset besar yang dimiliki bangsa ini, selain itu perlu juga untuk di lestarikan, bukan malah di kotori dan di rusak. Sering kita lihat dan kita dengar nelayan kita menggunakan bom ikan dan jaring pukat harimau untuk menangkap ikan, apa jadinya? terumbu karang kita rusak, ikan-ikan kecil yang semestinya harus dibiarkan hidup, mati dan terjaring pukat harimau. Hasilnya, hasil tangkapan nelayan sedikit-demi sedikit mulai menurun, karena habitat ikan rusak, tidak ada planton yang bisa dijadikan makanan ikan. Dalam segi pengolahan hasil perikanan, ikan-ikan kita deberi bandrol sangat murah sekali di pasaran luar negeri. Alibi mereka ikan kita sudah agak kusam, ukuranya tidak sama, kuota yang dibutuhkan selalu tidak terpenuhi standart kelayakannya. Tetapi itu juga ada benarnya, kalau kita lihat lebih cermat lagi, pengolahan hasil perikanan laut kita lemah dalam hal packaging, marketing dan labeling. Kalau kita melongok sedikit ke daerah perbatasan Indonesia dan malaysia, di sekitar wilayah NUNUKAN kalimantan timur, nelayan kita lebih memilih untuk menjual hasil tangkapan ikan mereka ke malaysia karena harganya lebih baik dan tidak akan ada yang tersisa dan membusuk. Apa sebabnya? Hal itu terjadi selain karena harga yang diperoleh nelayan dari hasil mereka melaut sangat tidak mencukupi untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Lebih-lebih yang sangat menggelikan lagi di daerah NUNUKAN sampai tahun 2007 ini masih belum tersedia pabrik es yang sangat dibutuhkan nelayan-nelayan setempat untuk mendinginkan hasil tangkapannya. Anehkan? sangat ironis sekali, wilayah yang terkenal dengan sumber ikan yang melimpah seperti hanya di wilayah perairan NUNUKAN tersebut para nelayannya setiap hari kebingungan karena takut ikan-ikannya membusuk dan tak laku dijual kepasar. Di sisi lain, lihat saja pelabuhan-pelabuhan kita yang tetap saja mandek berstandart sebagai pelabuhan nasional, dengan berlikunya birokrasi, kumuhnya lokasi pelabuhan, minimnya sarana dan prasarana penunjang di dalamnya. Apa, jadinya? Kapal-kapal asing enggan bersandar di pelabuhan Indonesia, mereka mereka lebih memiliki bersandar di malaysia atau singapore. Karena mereka merasa disana mereka aman, terpenuhi segala kebutuhannya dan gampang sekali birokrasinya. Masih banyak lagi potensi kelautan yang belum tergarap dengan sungguh-sungguh. Dari segi pariwisata, masih banya terjadi konflik kepentingan yang menyebabkan pembangunan dalam aspek tersebut terbengkalai alias mangkarak. Dari segi pertanian laut, seperti petani rumput laut juga masih belum bisa memenuhi kuota ekspor yang dibutuhkan. Selau cara budidaya yang kelewat kuno, hal lain juga dikarenakan, mereka kebingungan dalam hal permodalan dan pemasaran, selalu saja mereka bertemu dengan para tengkulak yang selalu merugikan mereka. Laut beserta isinya harus kita lestarikan. Sedikit demi sedikit kita harus menyadarkan seluruh komponen bangsa indonesia, baik itu pemerintah, masyarakat, pihak swasta untuk memanfaatkan laut dengan searif-arifnya. Mulailah untuk tidak hanya mengeksploitasi dan mengeksploitasi saja, dengan tidak mengindahkan keberlangsungan hidup ekosistem laut di dalamnya. Semoga segera kita semua melek mata bahwa laut sangat berharga sekali bagi kita orang Indonesia.... Jangan sampaim kekayaan kita terus di ambil oleh pihak lain yang tidak bertanggung jawab. By penjaga perbatasan.....

Baca Lebih Lengkap Artikelnya....

Kamis, 13 Maret 2008

Warga Nunukan Kaltim Gelar Apel Siaga, Menepis Isu Askar Wataniah

Jakarta - Isu banyaknya warga negara Indonesia di daerah perbatasan yang menjadi Askar Wataniyah (pasukan paramiliter) di Malaysia membuat sebagian besar warga geram. Mereka pun akan menggelar apel siaga untuk menunjukkan kebulatan tekad menjaga dan menegakkan kedaulatan NKRI di daerah perbatasan.

“Kami teman-teman yang ada di Nunukan (Kalimatan Timur) mewakili yang di perbatasan sekitar 500 orang akan mengadakan apel siaga untuk menyatakan kebulatan tekad. Ini menyatakan tekad bahwa NKRI harga mati dan menepis isu yang beredar,” kata komandan utama Pasukan Rakyat Pembela NKRI (PRPN) Moch

Djaenuri kepada detikcom, Kamis (21/2/2008).

Djaenuri menjelaskan, apel siaga akan diadakan di Pelabuhan Tunon Taka, Nunukan, pada pukul 10.00 Wita. “Isu yang berkembang banyaknya WNI yang menjadi Askar Wataniyah itu tidak ada di Nunukan,” ujar dia,

Menurut Djaenuri, meski kondisi ekonomi warga di Nunukan pas-pasan, di darah mereka masih mengalir semangat merah putih. “Kami akan menunjukkan kalau kami Merah Putih,” tegas dia.

Baca Lebih Lengkap Artikelnya....

Warga Nunukan Tolak Masuk Menjadi Askar Wataniah

Askar watania










NUNUKAN-MI: Sejumlah warga perbatasan Kabupaten Nunukan, Kaltim membuktikan memiliki rasa nasionalisme yang tinggi terhadap Bangsa Indonesia. Mereka secara tegas menolak menjadi anggota Askar Wataniah.

Dalam investigasi Media Indonesia, yang berpura-pura menjadi perekrut anggota Askar Wataniah Malaysia, di pelabuhan Tunontaka Nunukan itu tercatat sedikitnya tiga orang warga yang menolak saat ditawari menjadi anggota AW. Ketiganya adalah Zainal Bakir, 27, kuli panggul pelabuhan, Husein Yusup, 30, penjaja jasa tukar uang ringgit, dan Supriyono, 29, pejaga toko minuman di pelabuhan itu.

Saat Media Indonesia mencoba menawari pekerjaan sebagai anggota AW, Husein langsung menolak tanpa menanyakan berapa besar bayaran yang ditawarkan. Ia beralasan tidak bisa meninggalkan istri dan dua anaknya yang tinggal bersamanya di Jalan Gang Dahlia 3, Nunukan Timur, Nunukan, Kaltim.

Selain itu, ia tidak mau pindah kewarganegaraan Malaysia sebagai syarat perekrutan menjadi anggota AW. Pasalnya, menurut dia, syarat untuk menjadi warga negara Malaysia tidak mudah. “Kita dengar syaratnya harus punya IC warga negara Malaysia. Sekarang ini susah dapatnya dan pasti mahal bayar dokumennya,” ungkap dia.

Sementara itu, Zainal saat ditawari Media Indonesia menolak karena tidak mau berhadapan dengan orang Indonesia nantinya. Ia mengaku saat pernah bekerja sebagai TKI di Malaysia selama dua tahun sempat trauma melihat perlakuan pihak kepolisian Malaysia terhadap warga Indonesia.

“Police-police itu kejam sekali kalau ketemu orang kita. Orang kita itu ditangkap, diseret-seret, dipukul, dicambuk. Kita lihat sendiri itu,” kata pria keturunan Bugis ini. Akibat trauma yang mendalam ini, hampir saja dia hendak menyeret Media Indonesia untuk dilaporkan ke pihak keamanan pelabuhan. Namun, untungnya bisa dicegah setelah dijelaskan tawaran ini hanya sekedar untuk tugas peliputan.

Adapun, Supriyono langsung menolak karena tidak percaya terhadap tawaran menjadi anggota Askar Wataniah. Ketika ditanya apakah pernah ada orang di pelabuhan yang pernah menawari orang-orang Indonesia untuk direkrut menjadi anggota Askar, dia mengaku tidak ada. “Yang saya dengar sih belum pernah ada Mas. Paling nawarin nyebrang untuk jadi keamanan kebun,” ujarnya.

Baca Lebih Lengkap Artikelnya....

Pesawat Tempur Siap Menjaga Ambalat dan NKRI

Makassar (ANTARA News) - Perang dingin di antara Indonesia dengan Malaysia pasca “senggolan” antara kapal perang RI Tedung Naga dan kapal perang Diraja Malaysia, Renchong di perairan Ambalat, Kalimantan Timur, Indonesia pada 8 April 2005 terkait sengketa blok Ambalat tampaknya masih berlanjut.

Setelah Malaysia menempatkan pesawat tempurnya di Tawao, dekat perairan Indonesia yang kaya minyak itu, TNI Angkatan Udara (AU) kini siap-siap menggelar armada tempurnya di Tarakan, Kalimantan Timur.

“Ambalat adalah milik Indonesia dan kita tidak mau Ambalat ini menjadi seperti pulau Sipadan dan Ligitan yang diambil Malaysia,” kata Panglima Komando Operasi TNI AU (Koopsau) II, Marsda TNI Yushan Sayuti, saat kepada pers yang mengikuti pengintaian udara perairan Ambalat, Rabu (27/2).

F-16 TNI-AUPenggelaran kekuatan militer dari TNI AU di sekitar perairan Blok Ambalat itu memang bukan yang pertama kalinya karena pesawat-pesawat tempur dan intai TNI AU secara rutin memantau kawasan itu dan selalu siaga di Pangkalan Udara (Lanud) Balikpapan, Kalimantan Timur dan Lanud Hasanuddin, Makassar.

Hanya saja, pesawat-pesawat tempur itu masih butuh waktu tempuh antara 15 sampai 30 menit dari Balikpapan atau Makassar baru bisa menjangkau Ambalat, sementara pesawat tempur dari Tawao bisa menjangkau daerah yang masih dipersengketakan itu dalam hitungan detik.

“Kita ingin agar pesawat-pesawat tempur kita lebih dekat ke Ambalat karena konon, pihak Malaysia telah menempatkan pesawat-pesawat tempurnya di Tawao,” kata Kepala Staf Koopsau II, Marsda TNI Benyamin Dandel, usai menemui Wakil Walikota Tarakan, Thamrin AD.

Kedua pejabat yang didampingi sejumlah stafnya masing-masing itu menggelar rapat untuk memantapkan koordinasi kedua belah pihak dalam upaya mempercepat terealisasinya pembangunan Pangkalan Udara (Lanud) Tarakan yang telah dirintis sejak Desember 2005.

F-5 TNI-AULanud Tarakan akan berdiri di atas lahan seluas 168 hektare di ujung landas pacu Bandar Udara Juata Tarakan dan diharapkan sudah beroperasi akhir 2009. Pekerjaan fisik pembangunan kantor telah dimulai meski pembebasan lahan belum tuntas.

Dari 168 hektare lahan yang dibutuhkan, Pemkot Tarakan harus membebaskan 108 hektare untuk perkantoran dan fasilitas penerbangan tempur lainnya. Namun dari jumlah itu, baru 38 ha yang selesai dibebaskan.

Pembebasan lahan yang mulai dianggarkan tahun 2007 berjalan agak lambat karena Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (APBD Pemprov Kaltim) tahun 2007 yang mengalokasikan dana Rp10 miliar terlambat dicairkan dan tahun 2008 ini akan dikucurkan lagi Rp10 miliar.

“Negosiasinya agak rumit pak karena banyak lahan yang akan dibebaskan merupakan areal pertambakan rakyat yang cukup produktif,” ujar Asisten I Pemkot Tarakan.

“Lanud ini akan beroperasi tahun 2009 untuk memperkuat pengamanan wilayah NKRI di perbatasan dengan-Malaysia, terutama blok Ambalat dan sekitarnya,” kata Benyamin.

Setelah Lanud type C di Tarakan beroperasi, TNI AU akan menempatkan pesawat-pesawat tempur di kota ini sehingga lebih cepat, efektif dan efisien dalam pengerahan kekuatan udara bila eskalasi gangguan keamanan di perbatasan meningkat.

Koopsau II memiliki beberapa jenis pesawat tempur seperti Sukhoi, F-16, F-5 dan Hawk.

Howk TNI-AU“Pesawat-pesawat itulah yang nantinya akan kita gilir untuk bersiaga di Tarakan,” ujarnya.

Pihak Malaysia, kata Benyamin, sudah memiliki pangkalan udara di Tawao dan menempatkan pesawat-pesawat tempurnya di sana, sementara TNI AU selama ini menyiagakan pesawat tempurnya di Balikpapan yang jaraknya cukup jauh dengan perbatasan kedua negara dibanding Tawao.

Satuan TNI AU yang ada di Tarakan saat ini adalah Satuan Radar yang berada di bawah Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional (Kosekhanudnas) II Makassar.

Sementara itu, Wakil Walikota Tarakan, Thamrin AD, mengatakan bahwa pihaknya mendukung penuh pembangunan Lanud Tarakan karena hal itu terkait dengan upaya menegakkan integritas NKRI.

“Bagi kami, keutuhan NKRI adalah harga mati, apalagi daerah kami ada di wilayah perbatasan. Karena itu kami akan mendukung penuh pembangunan Lanud ini dengan menyediakan lahan yang dibutuhkan TNI AU,” ujarnya.

Perairan Ambalat sampai saat ini dapat dikatakan aman dari gangguan kapal-kapal asing, khususnya dari negara serumpun, Malaysia.

B-737-200Wartawan ANTARA News yang mengikuti operasi pengintaian udara menggunakan pesawat intai B-737-200 dari Skadron Udara 5 Lanud Hasanuddin menyaksikan bahwa bendera merah putih di puncak mercusuar Karang Unarang tetap berkibar.

Dengan kamera wescam canggih di dalam kabin pesawat intai tersebut terlihat jelas KRI Hiu bernomor lambung 804 sedang berada beberapa ratus meter dari sekitar mercusuar Karang Ungaran.

Di sekitar mercusuar itu yang tetap kokoh itu, tampak sejumlah perahu nelayan sedang menangkap ikan dan beberapa kapal lainnya, termasuk sebuah tongkang yang ditarik kapal tunda sedang melintas.

“Kapal-kapal itu milik orang Indonesia, tak ada kapal asing,” kata Lettu Pnb T. Sani selaku pemimpin misi (mission commander) kepada wartawan di dalam pesawat pada posisi 2500 meter di atas permukaan laut tepat di atas mercusuar itu.

Benyamin Dandel mengatakan, perairan Ambalat kini aman dari gangguan kapal asing setelah TNI memperkuat pengamanan di kawasan itu.

“TNI AU sendiri secara rutin melakukan pengamanan melalui pengintaian udara dan selalu siap mengerahkan kekuatan tempur dari Balikapapan dan Makassar kalau eskalasi keamanan meningkat,” kata Benyamin.

TNI AU sendiri saat ini menyiagakan lima KRI yang secara bergilir ditugaskan untuk berlayar di sekitar mercusuar Karang Unarang. Kapal-kapal itu berpangkalan di Tarakan dan Nunukan (Kaltim) dan Tolitoli (Sulawesi Tengah).

Disamping kapal perang, satu kompi personel Marinir dari Pasukan Marinit (Pasmar) I Surabaya juga terus siaga di sekitar Ambalat.

KRI HIU

Langkah preventif TNI mengamankan Blok Ambalat dan Ambalat Timur yang diklaim Malaysia sebagai miliknya itu merupakan implementasi dari tanggung jawab TNI sebagai komponen utama alat pertahanan negara sebagaimana yang diatur juga dalam UU No. 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara dan UU Nomor 34 tahun 2004 Tentang TNI.

Upaya untuk mempertahankan kedaulatan negara dan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan pendorong utama sehingga TNI mengerahkan kekuatan baik laut maupun udara ke wilayah itu, kata Marsda TNI Yushan Sayuti, Pangkoopsau II. (Sumber)

Baca Lebih Lengkap Artikelnya....

Selasa, 11 Maret 2008

Taman Hutan Raya Bukit Soeharto

  • Terletak di Km 54 Jalan Raya Balikpapan-Samarinda dengan luas hutan lebih kurang 70.000 Ha. Areal ini dijadikan lokasi Wana Riset (tempat riset hutan) oleh Kanwil Kehutanan Prop. Kalimantan Timur, guna pengafaan jenis pohon-pohonan langka dan penangkaran orang utan. Lokasi ini cicik untuk untuk perkemahan dan lintas alam.
  • Fasilitas: ruang pertemuan, mess, kantor.
  • Untuk masuk ke lokasi ini harus mendapat ijin dari petugas yang ada di Wana riset di lokasi tersebut.

Baca Lebih Lengkap Artikelnya....

Taman Nasional Kayan Mentarang

Samarinda (ANTARA News) - Nun jauh di pedalaman Kalimantan terdapat hamparan hutan tropis dengan ekosistem dataran tinggi yang masih terjaga. Namanya Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM).

Kawasan seluas 1,32 juta hektare ini, dikenal karena merupakan taman nasional terluas di Asia.

Kondisi alam yang kurang bersahabat karena berbukit-bukit dan berlembah-lembah, serta bertebing curam membuat kawasan itu aman dari tangan perambah hutan. Letaknya juga jauh di pedalaman Kalimantan, sehingga menyulitkan bagi mobilisasi alat-alat berat dari kota.

Sebagian kawasan konservasi itu memang ada yang rusak, khususnya yang dekat dengan Sabah dan Serawak, Malaysia.

Namun secara umum, kawasan yang ditetapkan pertama kali pada tahun 1980 sebagai Cagar Alam oleh Menteri Pertanian Indonesia itu masih bagus ketimbang hutan di Indonesia.

Kawasan itu selain memiliki keanekaragaman hayati luar biasa juga menyimpan potensi wisata yang menggagumkan karena terdapat lokasi peninggalan pra-sejarah serta kehidupan asli warga Dayak yang masih mempertahankan tradisinya sejak ribuan lalu.

Semuanya belum ada yang berubah. Di Taman Nasional Kayan Mentarang seolah waktu berhenti.

Di kawasan itu, komunitas warga Dayak Punan masih mempertahankan kehidupan meramu hasil hutan ikutan –damar, sarang burung dan gaharu. Mereka tidak pernah menetap dalam satu lokasi.

Selain Dayak Punan terdapat komunitas sub-etnik Dayak yang diperkirakan jumlahnya sekitar 21.000 orang. Mereka juga memiliki sub kelompok bahasa bermukim di dalam dan di sekitar taman nasional.

Komunitas Dayak, seperti suku Kenyah, Kayan, Lundayeh, Tagel, Saben dan Punan mendiami sekitar 50 desa yang ada di kawasan TNKM.

Mereka masih mempertahankan tradisi, masih tinggal di rumah Lamin –rumah panggung khas Dayak yang bisa ditinggali 100 orang– serta pola berladang.

Kehidupan warga Dayak di rumah Lamin menarik perhatian sejumlah wisatawan asing yang berkunjung ke kawasan itu.

Peninggalan kuburan batu di hulu Sungai Bahau dan hulu Sungai Pujungan, yang merupakan peninggalan suku Ngorek, juga menggugah minat wisatawan serta para peneliti.

Namun, karena TNKM merupakan bagian “heart of Borneo” yang jauh di pedalaman, perlu biaya besar, waktu dan tenaga untuk mencapai kawasan itu.

Mencapai kawasan TNKM bisa melalui Kabupaten Malinau dan Kabupaten Nunukan, karena kawasan konservasi itu berada dalam dua kabupaten tersebut. Sebagian kawasan TNKM berbatasan dengan Serawak di Kabupaten Malinau dan sebagian berbatasan dengan Sabah di Kabupaten Nunukan.

Mencapai lokasi tersebut membutuhkan dana jutaan rupiah dari ibukota provinsi Kaltim Samarinda karena harus menggunakan berbagai alat transportasi mulai dari pesawat, darat dan sungai.

Bagi para wisatawan, mungkin ada satu hal yang mengejutkan saat berkunjung ke TNKM, yakni apabila beruntung bersua dengan satwa langka yang sebelumnya sudah dianggap punah dari bumi Borneo, yakni Gajah Kalimantan (Elephas maximus borneensis).

Hasil survei yang dilakukan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim, Dana Suaka Margasatwa (World Wild-life Fund/WWF) Indonesia dan mahasiswa Laboratorium Keanekaragaman Hayati Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman pada Februari hingga maret 2007 menemukan bahwa populasi satwa langka tersebut hanya berkisar 25 hingga 45 ekor.

Gajah Kalimantan berbeda dengan Gajah Sumatera dan Gajah Asia. Gajah ini adalah sub-spesies dari gajah Asia. Asal usul gajah Kalimantan masih merupakan kontroversi. Terdapat hipotesis bahwa mereka dibawa ke pulau Kalimantan. Pada tahun 2003, penelitian DNA mitokondria menemukan bahwa leluhurnya terpisah dari populasi daratan selama pleistosen, ketika jembatan darat yang menghubungkan Kalimantan dengan kepulauan Sunda menghilang 18.000 tahun yang lalu.

Spesies ini kini berstatus kritis akibat hilangnya sumber makanan, perusakan rute migrasi dan hilangnya habitat mereka. Dilaporkan pada tahun 2007 hanya terdapat sekitar 1.000 gajah.

Kondisi alam yang berbukit-bukit, berhutan lebat serta dingin menyebabkan Gajah Kalimantan itu mengalami evolusi sehingga memiliki tubuh lebih kecil, telinga yang lebar, gading dan belalainya lebih panjang, serta ekornya nyaris menyentuh tanah serta berbulu panjang dan lebat.

Kawasan TNKM terletak pada ketinggian antara 200 meter sampai sekitar 2.500 m di atas permukaan laut, mencakup lembah-lembah dataran rendah, dataran tinggi pegunungan, serta gugus pegunungan terjal yang terbentuk dari berbagai formasi sedimen dan vulkanis.

Selama puluhan tahun banyak pihak meyakini gajah sudah punah di Kalimantan, namun berdasarkan penelitian WWF, KSDA Kaltim dan Universitas Mulawarman Samarinda belum lama ini, ada kawanan satwa langka itu di kawasan hutan Sebuku, Kabupaten Nunukan, Kaltim, namun terancam segera punah.

Dari data Forum Pecinta Satwa Kaltim, gajah kalimantan (Elephas Maximus Borneensis) merupakan spesies gajah Asia dan Sumatra yang terisolasi sekira 300.000 tahun lalu. Gajah kalimantan dinilai termasuk satwa paling langka untuk spesies gajah karena memiliki perbedaan dengan satwa sejenis yang terdapat di berbagai belahan dunia.

Gajah kalimantan merupakan gajah pegunungan, karena topografi kawasan Hutan Sebuku yang tinggi dan berbukit. Gajah ini beda dengan gajah sumatera karena merupakan sub spesies gajah asia. Dari hasil uji DNA, gajah kalimantan memiliki perbedaan genetik dengan gajah di Srilangka, India, Bhutan, Bangladesh, Thailand, Laos, Vietnam, Kamboja, semenanjung Malaysia dan Sumatera.

Namun, selama ini belum ada upaya dari pemeritah untuk melakukan perlindungan terhadap gajah yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia itu. Upaya terpenting bagi pemerintah adalah menyelamatkan kawasan konservasi itu dari berbagai kegiatan untuk merusak hutan yang menjadi habitat Gajah Kalimantan.

Bagi wisatawan yang beruntung, melihat gajah kalimantan di TNKM merupakan suatu hal luar biasa karena melibat sebuah keajaiban dunia yang masih berkelana di rimba Kalimantan.


Baca Lebih Lengkap Artikelnya....

PLN Nunukan

Perusahaan monopoli, tanpa pesaing. Barang yang dijual dibutuhkan banyak orang. Perusahaan yang sangat menguntungkan? Belum tentu. Tidak percaya? Tanya saja Perusahaan Listrik Negara ranting Nunukan. Seperti PLN-PLN di daerah lain pada umumnya, PLN di pulau Nunukan juga terbelit masalah klise: beban yang ada melebihi kemampuan dari kapasitas mesin pembangkit. Akibatnya tentu saja adalah pemadaman yang digilir kepada pelanggan PLN secara rutin. Sehingga, katakanlah jika saja RW 05 saat ini mati listrik dan RW 06 tidak, namun 2 hari kemudian RW 05 yang mati dan RW 06 yang nyala, adalah sudah menjadi pemandangan biasa di Nunukan.

Namun, pemandangan biasa tersebut menjadi luar biasa, terutama untuk tiga hari terakhir ini (22, 23, dan 24 Jan 08--red). Dalam tiga hari ini, daerahku mengalami mati listrik selama dua hari @ 24 jam pemadaman. Maksudnya, daerahku mengalami mati listrik selama 24 jam penuh, kemudian menyala kembali selama 24 jam, lalu mati lagi selama 24 jam. Jadi, mati, nyala, dan mati. Di daerahku, polanya adalah mati di sore hari, dan baru menyala kembali di sore hari keesokan harinya...Is that something?

Bagiku pribadi, tidak ada masalah jika tidak ada listrik di kamarku sekedar untuk menyalakan tv, pc, kulkas, atau perangkat hiburan dan lainnya yang membuat hidup lebih nyaman, yang menggunakan listrik. Karena justru ketika mati listrik, aku merasa lebih rileks dan dapat menikmati momen dari ritme kehidupan yang serasa melambat. Cukup dengan sebatang lilin di kamar atau kadang menikmati bintang ketika langit cerah di lantai atas kosku, aku sudah merasa terhibur. Sederhana memang (Mungkin karena hal ini aku ditempatkan di Nunukan?).

Namun hal ini menjadi masalah ketika aku tidak bisa me-recharge baterai ponselku. Yup, dengan aktivitasku, baterai ponselku sering tidak bisa melewati 24 jam tanpa di-recharge kembali. Beginilah risiko menjemput rizki di sektor telekomunikasi; ponsel merupakan benda ke-2 yang harus selalu dibawa. Yang pertama? Dompet, tentu saja...

Berbicara tentang aktivitas menjemput rizki, sebenarnya inilah alasan mengapa aku menulis ini. Prestasi PLN kali ini sungguh membuatku pontang-panting. Ibarat tubuh yang sering berolahraga, akhirnya ambruk juga ketika tubuh tidak lagi mendapat suplai energi yang cukup. Nah, perangkat telekomunikasi juga mirip seperti itu. Tetapi, seperti tubuh yang masih bisa mengambil energi cadangan dari otot ketika benar-benar tidak ada suplai energi, perangkat telekomunikasi juga punya sumber energi cadangan: baterai. Namun sayangnya, tidak semua baterai mampu menahan derita selama 24 jam. Dan ketika hal itu terjadi, it's time to panic!

Hehe. Sebenarnya tidak perlu panik. Karena masih ada perangkat yang di Nunukan bukanlah barang yang asing: genset. Ya, genset. Idealnya, genset dapat menyala otomatis ketika listrik PLN padam. Dan idealnya, di seluruh titik-titik penting di mana ada perangkat telekomunikasi, ada genset. Mengingat di Nunukan dan di Kalimantan pada umumnya, kemampuan PLN di dalam menyediakan listrik belum bisa dibandingkan dengan di Pulau Jawa. Namun tentu saja, di dunia ini tidak ada buatan manusia yang ideal. Pada akhirnya, ketiadaan sumber energi tentu saja akan meniadakan banyak hal, dan yang terpenting, membuatku harus berkali-kali bersabar.

Mungkin hal ini terkesan egois, melihat ketidakmampuan PLN dari sisi kerugian pelanggannya saja, dan belum melihat dari sisi mengapa dan bagaimana PLN bisa seperti itu. Namun aku tidak akan membahas dari sisi PLN. Karena sekali lagi, alasannya adalah klasik. Cukup banyak tulisan-tulisan maupun penelitian yang dilakukan tentang hal tersebut. Dalam tulisan ini, aku ingin kita bersama-sama mengingat bahwa kita dituntut untuk selalu berbuat yang terbaik, seakan kita hidup lama di dunia, dan bersiap menujuNya juga yang terbaik seakan kita mati esok.

Jadi, kita memang dituntut untuk selalu berbuat yang terbaik di dalam segala hal, termasuk di dalam aktivitas apapun yang kita lakukan. Seorang guru berusaha sebaik-baiknya mengajar dengan keikhlasan dan mengajar sekaligus dengan contoh perbuatan. Sang murid selalu mengerahkan kemampuan terbaiknya untuk menyerap setiap tetes-tetes ilmu. Seorang hakim yang baik selalu berusaha memutuskan perkara dengan seadil-adilnya. Para karyawan selalu mengerahkan kemampuannya yang terbaik menunaikan kewajiban, baru kemudian menuntut haknya. Penjual makanan menjual makanannya dengan kualitas terbaik, tidak mengandung bahan-bahan yang tidak menyehatkan dan berbahaya bagi pembelinya, aparat keamanan yang jujur dan melindungi warganya, dan apapun perkerjaan lainnya, selalu kita berikan yang terbaik. Marilah kita bersama-sama berusaha terlebih dulu dan kemudian berdo'a kepada Allah swt dalam melakukan apapun sepanjang menuju kebaikan. Dan semoga, semua itu adalah yang terbaik dari kita.


Selama periode 'mencekam' tanpa listrik tersebut, alhamdulillah dari ke-3 operator seluler di sini tidak ada yang padam sinyal. Semua lolos, memberikan konsistensi layanannya yang insya Allah terbaik. Pelanggan tidak mau dan tidak usah tahu, ada atau tidak ada listrik, sinyal di ponsel harus selalu ada. Bagaimana dengan PLN?

Baca Lebih Lengkap Artikelnya....

TNI AL Tangkap Kapal Kayu Ilegal Tujuan Malaysia

Surabaya, Satuan patroli keamanan laut Pangkalan TNI AL (Lanal) Tarakan berhasil menangkap Kapal Layar Motor (KLM) Uru Cina yang membawa 30 meter kubik kayu atau sekitar 150 batang dengan tujuan Tawao, Malaysia. Kadispen Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim), Letkol Laut (KH) Drs Toni Syaiful di Surabaya, Rabu menjelaskan bahwa kapal itu ditangkap di sekitar perairan Batu Putih, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur karena tidak dilengkapi dokumen yang sah. "Penangkapan kapal berbendera Indonesia itu berawal dari kecurigaan personel Lanal Tarakan yang sedang melakukan patroli menggunakan kapal patroli Kaltara yang mengetahui ada kapal layar motor yang berlayar mengarah ke utara," katanya. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata kapal yang dinakhodai oleh Irwan itu berlayar dari pelabuhan Batu Putih. "Sesuai keterangan Komandan Lanal Tarakan, Kolonel Laut (P) Hadi Susilo, saat diadakan pemeriksaan awal terhadap kapal yang bercat biru putih itu, ternyata nakhoda tidak bisa menunjukan surat ijin berlayar dan surat muatan kapal berupa kayu Hitam Asmara sebanyak 150 batang," katanya. Atas temuan itu, personel kapal patroli Kaltara kemudian menggiring KLM Uru Cina beserta tujuh orang ABK-nya ke Lanal Tarakan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Menurut Kadispen, kasus pembalakan liar di sekitar perbatasan Indonesia dengan Malaysia Timur tersebut sebenarnya sering terjadi, walaupun dalam skala yang kecil. "Modus operandinya kayu-kayu yang diduga merupakan hasil pembalakan liar dari hutan-hutan di Kaltim, diangkut dengan menggunakan kapal-kapal motor kecil yang berbobot mati sekitar 17?25 gross tonase menuju Kota Tawao, Malaysia Timur," ujarnya. Dikatakannya, untuk menghindari pemeriksaan dari aparat yang berwenang, para pelaku membawa kapal itu berlayar pada malam hari. "Karena itu, TNI AL dalam hal ini Lanal Tarakan dan Stasiun TNI AL (Sional) Nunukan yang terletak di perbatasan Indonesia dengan Malaysia beserta unsur-unsur kapal perang lainnya semakin meningkatkan patroli di wilayah tersebut," ujarnya. Sumber : Antara

Baca Lebih Lengkap Artikelnya....

Tanda kalau si Dia Jodoh Anda

1. Gunakan seluruh pancaindera

Jodoh adalah perkara yang sudah ditetapkan oleh Tuhan yang maha esa. Tetapi bagaimana kita hendak mengetahui dia memang ditakdirkan untuk kita? Tuhan mengurniakan manusia telinga untuk mendengar, mata untuk melihat dan akal untuk berfikir. Jadi gunakan sebaik-baiknya bagi mengungkapkan rahsia cinta yang ditakdirkan. Dua manusia yang rasa mereka dapat hidup bersama dan memang dijodohkan pasti memiliki ikatan emosi, spiritual dan fizikal antara keduanya.

Apabila bersama, masing-masing dapat merasai kemanisan cinta dan saling memerlukan antara satu sama lain. Lalu gerak hati mengatakan, dialah insan yang ditakdirkan untuk bersama. Benarkah ia seperti yang diperkatakan? Berikut adalah 10 petanda yang menunjukkan dia adalah jodoh kita.

2. Bersahaja

Kekasih kita itu bersikap bersahaja dan tidak berlakon. Cuba perhatikan cara dia berpakaian, cara percakapan, cara ketawa serta cara makan dan minum. Adakah ia spontan dan tidak dikawal ataupun kelihatan pelik.

Kalau ia nampak kurang selesa dengan gayanya, sah dia sedang berlakon. Kadang-kadang, kita dapat mengesan yang dia sedang berlakon. Tetapi, apabila dia tampil bersahaja dan tidak dibuat-buat, maka dia adalah calon hidup kita yang sesuai. Jika tidak, dia mungkin bukan jodoh kita.

3. Senang bersama

Walaupun kita selalu bersamanya, tidak ada sedikit pun perasaan bosan, jemu ataupun tertekan pada diri kita. Semakin hari semakin sayang kepadanya. Kita sentiasa tenang, gembira dan dia menjadi pengubat kedukaan kita.

Dia juga merasainya. Rasa senang sekali apabila bersama. Apabila berjauhan, terasa sedikit tekanan dan rasa ingin berjumpa dengannya. Tidak kira siang ataupun malam, ketiadaannya terasa sedikit kehilangan.

4. Terima kita seadanya

Apapun kisah silam yang pernah kita lakukan, dia tidak ambil peduli. Mungkin dia tahu perpisahan dengan bekas kekasihnya sebelum ini kita yang mulakan.

Dia juga tidak mengambil kisah siapa kita sebelum ini. Yang penting, siapa kita sekarang. Biarpun dia tahu yang kita pernah mempunyai kekasih sebelumnya, dia tidak ambil hati langsung. Yang dia tahu, kita adalah miliknya kini.

Dia juga sedia berkongsi kisah silamnya. Tidak perlu menyimpan rahsia apabila dia sudah bersedia menjadi pasangan hidup kita.

5. Sentiasa jujur

Dia tidak kisah apa yang kita lakukan asalkan tidak menyalahi hukum hakam agama. Sikap jujur yang dipamerkan menarik hati kita. Kejujuran bukan perkara yang boleh dilakonkan. Kita dapat mengesyaki sesuatu apabila dia menipu kita.

Selagi kejujuran bertakhta di hatinya, kebahagiaan menjadi milik kita. Apabila berjauhan, kejujuran menjadi faktor paling penting bagi suatu hubungan.

Apabila dia tidak jujur, sukar baginya mengelak daripada berlaku curang kepada kita. Apabila dia jujur, semakin hangat lagi hubungan cinta kita. Kejujuran yang disulami dengan kesetiaan membuahkan percintaan yang sejati. Jadi, dialah sebaik-baik pilihan.

6. Percaya Mempercayai

Setiap orang mempunyai rahsia tersendiri. Adakalanya rahsia ini perlu dikongsi supaya dapat mengurangkan beban yang ditanggung.

Apabila kita mempunyai rahsia dan ingin memberitahu kekasih, adakah rahsia kita selamat di tangannya? Bagi mereka yang berjodoh, sifat saling percaya mempercayai antara satu sama lain timbul dari dalam hati nurani mereka.

Mereka rasa selamat apabila memberitahu rahsia-rahsia kepada kekasihnya berbanding rakan-rakan yang lain. Satu lagi, kita tidak berahsia apa pun kepadanya dan kita pasti rahsia kita selamat. Bukti cinta sejati adalah melalui kepercayaan dan kejujuran. Bahagialah individu yang memperoleh kedua-duanya.

7. Senang Bekerjasama

Bagi kita yang inginkan hubungan cinta berjaya dan kekal dalam jangka masa yang panjang, kita dan dia perlu saling bekerjasama melalui hidup ini. Kita dan kekasih perlu memberi kerjasama melakukan suatu perkara sama ada perkara remeh ataupun sukar.

Segala kerja yang dilakukan perlulah ikhlas bagi membantu pasangan dan meringankan tugas masing-masing. Perkara paling penting, kita dan dia dapat melalui semua ini dengan melakukannya bersama-sama.

Kita dan dia juga dapat melakukan semuanya tanpa memerlukan orang lain dan kita senang melakukannya bersama. Ini penting kerana ia mempengaruhi kehidupan kita pada masa hadapan.

Jika tiada kerjasama, sukar bagi kita hidup bersamanya. Ini kerana, kita yang memikul beban tanggungjawab seratus peratus. Bukankah ini menyusahkan?

8. Memahami diri kita

Bagi pasangan yang berjodoh, dia mestilah memahami diri pasangannya. Semasa kita sakit dia bawa ke klinik. Semasa kita berduka, dia menjadi penghibur. Apabila kita mengalami kesusahan, dia menjadi pembantu. Di kala kita sedang berleter, dia menjadi pendengar.

Dia selalu bersama kita dalam sebarang situasi. Tidak kira kita sedang gembira ataupun berduka, dia sentiasa ada untuk kita.

Dia juga bersedia mengalami pasang surut dalam percintaan. Kata orang, ‘lidah sendiri lagikan tergigit, inikan pula suami isteri’. Pepatah ini juga sesuai bagi pasangan kekasih.

Apabila dia sentiasa bersama kita melalui hidup ini di kala suka dan duka, di saat senang dan susah, dialah calon yang sesuai menjadi pasangan hidup kita.

9. Tampilkan kelemahan

Tiada siapa yang sempurna di dunia. Tipulah jika ada orang yang mengaku dia insan yang sempurna daripada segala sudut.

Pasti di kalangan kita memiliki kelemahan dan keburukan tertentu. Bagi dia yang bersedia menjadi teman hidup kita, dia tidak terlalu menyimpan rahsia kelemahannya dan bersedia memberitahu kita.

Sudah tentu bukan senang untuk memberitahu dan mengakui kelemahan di hadapan kekasihnya. Malah, dia tidak segan mempamerkan keburukannya kepada kita.

Misalnya, apabila dia bangun tidur ataupun sakit dan tidak mandi dua hari, dia tidak menghalang kita daripada melawatnya. Apabila kita dan dia saling menerima kelemahan dan sifat buruk masing-masing, memang ditakdirkan kita hidup bersamanya.

10. Kata hati

Dengarlah kata hati. Kadangkala, manusia dikurniakan Tuhan deria keenam yang dapat mengetahui dan memahami perasaan pasangannya.

Dengan deria batin ini juga kita dapat saling tahu perasaan masing-masing. Kita dan dia juga dapat membaca fikiran antara satu sama lain dan dapat menduga reaksi dan tindak balas pada situasi tertentu.

Apabila kita yakin dengan pilihan hidup kita, tanyalah sekali lagi. Adakah dia ditakdirkan untuk kita? Dengarlah kata hati dan buatlah pilihan. Serahlah segalanya pada ketentuan yang maha berkuasa.

Mimpi

Jodoh dan pertemuan semuanya di tangan Tuhan. Manusia hanya perancang di pentas dunia ini dan skripnya ditulis oleh yang maha esa. Adakalanya, dalam memainkan peranan sebagai pelakon, diberi petunjuk melalui mimpi.

Mimpi memang mainan tidur, tetapi apabila kita melakukan sembahyang Istikharah dan memohon supaya Tuhan memberikan petunjuk, insya-Allah dengan izinnya kita mendapat mimpi petunjuk. Jika dia pilihan kita, buatlah keputusan sebaiknya.

Jika tidak, tolaklah dia dengan baik. Semua yang kita lakukan ini adalah bagi mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia. Ingatlah, nikmat di dunia ini hanya sementara. Nikmat di akhirat adalah kekal selamanya.

Fikirkanlah. Adakah dia jodoh kita?

“ Manusia merancang, Allah menentukan.”

Baca Lebih Lengkap Artikelnya....

Photo Wilayah Sebatik






Kota Tawau Sabah




Batas Negara RI-Malaysia




Wilayah Sebatik




Patok Batas Negara RI-Malaysia




Pos Jaga Perbatasan RI









Dermaga Sebatik




1 Speedboat 2 bendera




batas negara RI




hutan mangrove


cekakak




pisang ekspor




bermain




pemandangan Kota Tawau dari atas bukit




Jalan lingkar Pulau Sebatik




ekspor pisang




1 rumah 2 negara




Anak2 Sebatik




wanita sebatik


Baca Lebih Lengkap Artikelnya....

Sejarah Terbentuknya Kabupaten Nunukan Kalimantan Timur

Kabupaten Nunukan adalah salah satu Kabupaten di provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di kota Nunukan. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 14.493 km² dan berpenduduk sebanyak 109.527 jiwa (2004). Motto Kabupaten Nunukan adalah "Penekindidebaya" yang artinya "Membangun Daerah" yang berasal dari bahasa suku Tidung. Nunukan juga adalah nama sebuah kecamatan di Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia.

Kabupaten Nunukan merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten Bulungan, yang terbentuk berdasarkan pertimbangan luas wilyah, peningkatan pembangunan, dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Pemekaran Kabupaten bulungan ini di pelopori oleh RA Besing yang pada saat itu menjabat sebagai Bupati Bulungan.

Pada tahun 1999, pemerintah pusat memberlakukan otonomi daerah dengan didasari Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Nah, dgn dasar inilah dilakukan pemekaran pada Kabupaten Bulungan menjadi 2 kabupaten baru lainnya yaitu Kabupaten Nunukan dan kabupaten Malinau.

Pemekaran Kabupaten ini secara hukum diatur dalam UU Nomor 47 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten Kutai Barat, dan Kota Bontang pada tanggal 4 Oktober 1999. Dan dengan dasar UU Nomor 47 tahun 1999 tersebut Nunukan Resmi menjadi Kabupaten dengan dibantu 5 wilayah administratif yakni Kecamatan Lumbis, Sembakung, Nunukan, Sebatik dan Krayan.

Nunukan terletak pada 3° 30` 00" sampai 4° 24` 55" Lintang Utara dan 115° 22` 30" sampai 118° 44` 54" Bujur Timur.

Adapun batas Kabupaten Nunukan adalah:
- Utara; dengan negara Malaysia Timur, Sabah.
- Timur; dengan Laut Sulawesi.
- Selatan; dengan Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Malinau.
- Barat; dengan Negara Malaysia Timur, Serawak

Kata Mutiara Hari Ini

Hidup bukan hidup, mati bukan juga mati, hidup adalah mati, mati adalah hidup, hidup bukan sekedar kematian, hidup adalah sensasi dari kematian, mati bukan sekedar kematian, mati adalah sensasi dari kehidupan, kematian dan kehidupan hanyalah sebuah sensasi dalam suasana ketidaknyataan....

Info Visitor